Jakarta, PR Politik – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan ketahanan energi dan stabilitas ekonomi nasional menyusul eskalasi konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ibas menilai situasi geopolitik tersebut berpotensi memperluas instabilitas global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam merespons dinamika global yang semakin tidak menentu.
“Dunia hari ini berada dalam situasi ketidakpastian yang serius. Ketika konflik bersenjata terjadi di pusat energi dunia, dampaknya menjalar ke seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita harus waspada, responsif, dan strategis,” ucapnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut Ibas, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi global, jalur perdagangan internasional, inflasi dunia, hingga keamanan kawasan.
Ia secara khusus menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi yang sangat vital bagi dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur tersebut, eskalasi konflik dinilai berpotensi menimbulkan gangguan distribusi energi bahkan kemungkinan penutupan jalur pelayaran.
Selat Hormuz, lanjutnya, merupakan jalur utama bagi sekitar 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya. Selain itu, selat tersebut juga menjadi rute penting pengiriman gas alam cair (LNG) dari Qatar ke berbagai negara.
“Bagi Indonesia, ini bukan sekadar angka di pasar bursa, melainkan ancaman nyata terhadap biaya operasional industri dan ketersediaan BBM di tingkat ritel. Kita harus sadar bahwa gangguan di selat tersebut dapat melambungkan harga minyak mentah jauh di atas asumsi makro APBN kita,” ucap Ibas.
Selain berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia, ia menilai gangguan di jalur pelayaran tersebut juga dapat memicu efek berantai pada rantai pasok global. Kenaikan premi asuransi pengiriman serta pengalihan rute kapal tanker diperkirakan akan meningkatkan biaya logistik internasional secara signifikan.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memicu kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri di dalam negeri, yang berpotensi menekan pertumbuhan sektor manufaktur nasional.
Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, Indonesia dinilai memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap gejolak harga energi global. Ibas memperkirakan kenaikan harga energi dunia dapat memicu sejumlah dampak ekonomi lanjutan.
“Kita harus mengantisipasi dampak rambatan ekonomi global ini dengan langkah yang terukur dan kebijakan yang tepat sasaran demi menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.
Ia memprediksi tekanan tersebut dapat berdampak pada meningkatnya beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), memicu inflasi pada sektor kebutuhan pokok, menurunkan daya beli masyarakat, hingga menghambat aktivitas ekspor dan impor.
Menyikapi dinamika global tersebut, Ibas menekankan bahwa Indonesia tidak boleh hanya bersikap reaktif, tetapi harus menyiapkan langkah strategis yang terukur. Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain memperkuat ketahanan energi nasional, menjaga stabilitas ekonomi serta memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran diplomasi aktif dan konsisten dalam menjaga stabilitas kawasan dan mendorong terciptanya perdamaian dunia.
Ibas mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia mengamanatkan bangsa ini untuk ikut berperan dalam menjaga ketertiban dunia. Nilai-nilai Pancasila, seperti kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan, menurutnya harus menjadi pedoman dalam menjalankan diplomasi internasional.
“Indonesia tidak boleh terjebak dalam polarisasi global. Kita adalah bangsa besar yang konsisten menolak perang dan kekerasan. Kita harus menjadi bangsa yang kokoh dalam nilai, kuat dalam ekonomi, dan bijak dalam diplomasi,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, parlemen, pelaku usaha hingga masyarakat untuk memperkuat persatuan nasional dan semangat gotong royong dalam menghadapi dinamika global.
Menurutnya, stabilitas dalam negeri menjadi kunci utama agar Indonesia mampu menghadapi berbagai guncangan eksternal yang muncul akibat ketegangan geopolitik dunia.
“Di tengah gejolak geopolitik global, Indonesia harus berdiri teguh sebagai jangkar stabilitas dan suara moral bagi perdamaian dunia,” ucap Ibas.















