Jakarta, PR Politik – Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, menilai gaya komunikasi Presiden Prabowo Subianto yang spontan dan dinamis memiliki kekuatan sekaligus risiko, terutama karena setiap pernyataan presiden memiliki dampak luas terhadap persepsi dan kepercayaan publik.
Menurut Gun Gun, gaya komunikasi Prabowo dapat dikategorikan sebagai dynamic style, yakni gaya komunikator yang cenderung menyampaikan secara spontan apa yang sedang dipikirkan. Gaya ini membuat komunikasi lebih genuin, tetapi memiliki risiko memunculkan kontroversi.
“Memang Pak Prabowo kembali ke gaya aslinya, dynamic style. Orang-orang dinamik, apa yang dipikirkan itu yang diucapkan. Risikonya adalah kontroversi,” ujar Gun Gun dalam sebuah podcast.
Ia menjelaskan, komunikasi presidensial memiliki tiga karakter utama, yakni otoritatif, resmi, dan direktif. Karena itu, seorang presiden perlu memahami bahwa pernyataan yang disampaikan tidak lagi sekadar merepresentasikan pribadi, tetapi juga institusi kepresidenan dan negara.
“Komunikasi presidensial itu harus merepresentasikan otoritas dia sebagai presiden, resmi, dan direktif memberi arahan,” katanya.
Gun Gun menilai persoalan komunikasi bukan terletak pada pilihan antara berbicara spontan atau menggunakan teks, melainkan kemampuan memahami konteks. Presiden tetap dapat mempertahankan gaya dinamisnya, tetapi perlu lebih berhati-hati ketika menyampaikan data teknis, kebijakan strategis, maupun isu yang berkaitan dengan hubungan diplomatik.
Ia mencontohkan pernyataan mengenai keuntungan penggilingan padi dan isu kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Menurutnya, data teknis harus dipastikan akurat karena masyarakat dapat dengan mudah melakukan verifikasi.
“Data numerik itu gampang sekali dikonfirmasi. Kalau data, orang bisa cek langsung,” ujarnya.
Gun Gun juga menyoroti pentingnya membangun public trust dengan tidak hanya berkomunikasi kepada kelompok pendukung. Menurutnya, terdapat kelompok masyarakat nonkomitmen yang dapat menerima atau menolak pemerintah berdasarkan program, kebijakan, dan kinerja.
“Proporsi yang harus diperbesar itu kelompok nonkomitmen, bukan yang sudah fans club dan bukan juga yang dari awal menolak,” katanya.
Di era media sosial, risiko komunikasi semakin besar karena setiap pernyataan dapat dipotong, diproduksi ulang, dan didistribusikan secara luas. Karena itu, menurut Gun Gun, pemerintah harus memperkuat narasi, menjaga koherensi pesan, serta menghindari komunikasi yang justru memperlebar jarak dengan masyarakat.
“Komunikasi itu prinsipnya membangun mutual understanding, pemahaman bersama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pemerintah agar tidak terjebak dalam echo chamber, yakni lingkungan komunikasi yang hanya menghadirkan pujian dan dukungan. Kritik, menurutnya, justru diperlukan sebagai bahan evaluasi.
“Jangan sampai asyik dengan echo chamber, asyik dengan applause dari fans club, sementara kritik sebagai nutrisi tidak mendapatkan ruang,” katanya.
Gun Gun menilai perkembangan opini publik juga perlu dipantau secara serius. Ia menggambarkan opini publik seperti lautan tenang yang dapat berubah menjadi “tsunami” apabila terdapat akumulasi persoalan yang tidak dikelola.
“Opini itu seperti lautan tenang. Tetapi di dalam jangan sampai ada gempa. Kalau terjadi gempa di dalam, lautan tenang itu bisa berubah menjadi tsunami,” ujarnya.
Karena itu, ia merekomendasikan penguatan information role di lingkungan komunikasi Presiden dengan melibatkan tenaga yang memiliki kompetensi komunikasi, mampu mengolah data, serta memberikan finding, conclusion, recommendation sebagai bahan pertimbangan Presiden.
“Pak Prabowo tetap bisa dengan gayanya yang dinamik. Hanya dalam hal tertentu harus ada kepiawaian menyiapkan data-data teknis,” katanya.
Gun Gun menegaskan, komunikasi harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam proses pemerintahan. Kebijakan yang baik, menurutnya, harus disertai komunikasi kebijakan yang baik agar publik memahami arah dan tujuan pemerintah.
“Kebijakan tanpa komunikasi kebijakan yang ada adalah kerusakan. Jejak digital juga sulit dihapus,” tuturnya.















