Yoris Sebastian: Buzzer Bukan Praktik Public Relations

Founder OMG Creative Consulting, Yoris Sebastian (depan-kiri) bersama Tim PR Politik Indonesia

Jakarta, PR Politik  – Praktik penggunaan buzzer untuk membangun citra politik dinilai tidak sejalan dengan esensi public relations (PR). Di tengah masyarakat yang semakin kritis terhadap informasi, PR politik dituntut kembali menjalankan fungsi utamanya, yakni membangun hubungan dan kepercayaan publik secara autentik.

Dalam sesi Road to PR Politik Summit 2026, Founder OMG Creative Consulting, Yoris Sebastian, menilai praktik PR saat ini mulai bergeser dari esensi utamanya. Menurutnya, public relations semestinya membangun reputasi secara organik, bukan menciptakan sentimen melalui narasi yang direkayasa atau diperkuat oleh buzzer.

“Zaman dulu PR itu yang gratis. Yang dibayar itu advertising. Sekarang advertising saja sudah mencari yang genuine. Lah kita di PR kok jadi mulai bayar buzzer? Kok mulai membuat hal-hal yang tidak genuine? Salah menurut saya,” ujar Yoris.

Menurut Yoris, tantangan PR politik bukan lagi sekadar membuat sebuah isu ramai diperbincangkan, melainkan menghadirkan kepercayaan yang mampu bertahan dalam jangka panjang. Kepercayaan tersebut hanya dapat dibangun ketika masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari kebijakan maupun program yang dijalankan.

Karena itu, ia berpandangan bahwa partai politik maupun institusi perlu memperbanyak pendukung yang lahir secara alami dari pengalaman positif masyarakat, bukan semata-mata mengandalkan percakapan yang dibentuk di ruang digital.

“Partai harus menciptakan buzzer-buzzer gratisnya dia. Dengan bantuan-bantuan yang genuine,” katanya.

Yoris menjelaskan, yang dimaksud dengan “buzzer-buzzer gratis” bukanlah buzzer dalam arti sebenarnya, melainkan masyarakat yang secara sukarela membagikan pengalaman positif karena merasakan langsung manfaat dari sebuah program atau kebijakan.

Bagi Yoris, masa depan PR politik tidak ditentukan oleh seberapa besar kemampuan mengendalikan percakapan di media sosial, tetapi oleh kemampuan membangun kepercayaan yang membuat masyarakat dengan sendirinya menjadi penyampai cerita positif.

Baca Juga:  Komunikasi Pejabat di Media Sosial dan Bayang-Bayang “Algorithmic White Branding”

“Harusnya tuh balik nge-branding PR itu sesuatu yang genuine,” tegas Yoris.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini