Merauke, PR Politik – Masyarakat adat di Kabupaten Merauke mulai menunjukkan kesiapan bertransformasi dari pola hidup tradisional menuju pertanian modern yang produktif. Keberhasilan Reinardus Ndiken, pemilik hak ulayat Marga Ndiken di Kampung Isano Mbias, Distrik Tanah Miring, menjadi bukti nyata kesuksesan Program Cetak Sawah Tahun 2025 yang kini mulai meningkatkan kesejahteraan warga lokal.
Reinardus tercatat sebagai pemilik hak ulayat pertama yang secara aktif menyerahkan lahan seluas 160 hektare miliknya untuk dikelola. Saat ini, kegiatan panen telah dilakukan secara bertahap pada lahan tersebut, didukung oleh dua Brigade Pangan yang melibatkan petani setempat.
Bupati Merauke, Yoseph Bladib Gebze, menyatakan bahwa perubahan ini selaras dengan visi Swasembada Pangan Presiden Prabowo Subianto.
“Masyarakat asli dan saudara-saudara yang ada di Merauke hari ini adalah masyarakat Merauke. Sinergi dan asimilasi ini harus berjalan. Dulu mungkin berburu dan meramu, sekarang mulai bergeser ke bercocok tanam, beternak, bahkan mencetak sawah agar ada nilai ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya saat meninjau panen, Senin (25/2).
Transformasi ke sektor pertanian modern ini membuahkan angka yang impresif. Luas panen padi di Merauke sepanjang 2025 melonjak hingga 78.955 hektare, naik 67,39 persen dari tahun sebelumnya. Produksi beras pun tumbuh pesat hingga mencapai 205.231 ton.
Pimpinan Cabang Bulog Merauke, Karennu, mengungkapkan bahwa peningkatan produksi ini diikuti dengan rekor penyerapan gabah dan beras tertinggi dalam enam tahun terakhir.
“Di tahun 2025, kami berhasil menyerap setara beras sebanyak 22.200 ton dan gabah sebanyak 186 ton. Untuk beras, capaian ini meningkat signifikan hingga 141 persen, sementara gabah naik 156 persen. Ini merupakan capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir Bulog Merauke di Papua Selatan,” jelasnya.
Keberhasilan di Kampung Isano Mbias tidak lepas dari kolaborasi antara dinas terkait, penyuluh pertanian, hingga jajaran TNI. Dandim 1707/Merauke, Letkol CZI Dili Eko Setyawan, menegaskan kesiapan Babinsa dalam memberikan pendampingan teknis bagi para petani di lahan cetak sawah baru.
“Tugas kami membantu pemerintah daerah melalui pendampingan. Pengetahuan Babinsa terus kami tingkatkan melalui kerja sama dengan dinas pertanian, agar bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada petani, terutama yang baru pertama kali menanam di lahan cetak sawah,” katanya.
Sementara itu, Reinardus Ndiken berharap pemerintah terus memperkuat infrastruktur pendukung untuk mengoptimalkan potensi 160 hektare lahan ulayatnya.
“Kita mencetak lahan untuk menambah pendapatan pemilik tanah dan masyarakat setempat. Dari cetak sawah 160 hektare ini, semua saling mendukung, mulai dari dinas, kelompok tani, penyuluh, hingga Babinsa,” ungkapnya.
Hingga saat ini, total capaian cetak sawah di Merauke telah menembus 40.000 hektare. Kabupaten ini kini kokoh berdiri sebagai lumbung pangan strategis di kawasan timur Indonesia sekaligus menjadi model transformasi ekonomi berbasis kearifan lokal.
sumber : Kementan RI















