Tembus Sabah International Expo 2026, UMKM Indonesia Buka Peluang Waralaba dan Pasokan Bahan Busa Tradisional Filipina

Kota Kinabalu, PR Politik – Partisipasi Indonesia dalam ajang pameran dagang Sabah International Expo (SIE) 2026 di Kota Kinabalu, Malaysia, sukses membuka serangkaian peluang bisnis lintas negara. Enam pelaku usaha nasional yang diboyong ke pameran pada 4–6 September 2026 tersebut berhasil menjajaki potensi ekspansi waralaba di Sabah hingga peluang pasokan bahan baku tekstil untuk pembuatan busana tradisional Filipina.

Enam pelaku usaha yang diboyong terdiri dari UMKM serta pelaku industri nasional asal Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kalimantan Utara (Kaltara). Produk-produk kebanggaan Nusantara yang dipamerkan meliputi batik, kain berlabel halal, lini fesyen beserta aksesori, kerajinan tangan, olahan bandeng dan kudapan khas Kaltara, minuman rempah, hingga komoditas permen dan kopi.

Keikutsertaan tiga UMKM asal Kaltara dinilai memiliki nilai strategis berkat kedekatan geografis wilayah perbatasan dengan Sabah. Posisi ini menjadikan Sabah sebagai hub penting untuk menjangkau jejaring pasar kawasan Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).

Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Kota Kinabalu, Noorman Effendi, menegaskan bahwa keunggulan kedekatan wilayah harus mampu ditransformasikan menjadi kemitraan ekonomi yang konkrit dan saling menguntungkan.

“Sabah merupakan salah satu pintu masuk strategis bagi produk Indonesia ke pasar Malaysia Timur dan kawasan BIMP-EAGA. Kedekatan geografis perlu kita transformasikan menjadi kedekatan ekonomi melalui perdagangan, investasi, konektivitas, dan kemitraan langsung antarpelaku usaha,” ujarnya.

Ajang SIE 2026 disemarakkan oleh sekitar 300 stan pameran, di mana 35 persen di antaranya diisi oleh eksibitor internasional dari 15 negara. Pameran ini membidik 10.000 pengunjung dengan proyeksi transaksi mencapai RM10 juta. Pameran ini disinergikan pula dengan penyelenggaraan 3rd BIMP-EAGA Trade, Investment and Halal Industry Conference yang dihadiri 300 delegasi BIMP-EAGA. Indonesia sendiri dijadwalkan bakal bertindak sebagai tuan rumah gelaran ke-4 konferensi tersebut pada Oktober 2027.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Perintahkan Penertiban Tambang Ilegal dan di Hutan Lindung

Konjen Noorman menggarisbawahi bahwa tolok ukur kesuksesan promosi tidak terbatas pada angka transaksi di stan, melainkan pada keberlanjutan hubungan dagang pasca-pameran (business-to-business).

“Promosi adalah pintu masuk. Yang terpenting adalah tindak lanjut setelah pameran. Pertemuan dengan calon distributor, pembeli, mitra usaha, maupun calon pewaralaba perlu dikembangkan menjadi transaksi dan kemitraan yang konkret. Dengan Indonesia sebagai calon tuan rumah konferensi berikutnya pada 2027, kita juga memiliki momentum untuk membawa lebih banyak pelaku usaha Indonesia masuk ke jejaring dan rantai nilai BIMP-EAGA,” tegasnya.

Melalui pengawalan diplomasi ekonomi yang gencar oleh KJRI Kota Kinabalu, keterlibatan pelaku usaha Indonesia di SIE 2026 diharapkan dapat memperkuat penetrasi produk lokal serta memperluas mata rantai pasok industri halal di kawasan Asia Tenggara.

sumber : Kemlu

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini