Sambut Lahirnya Ocean Institute of Indonesia, Riyono Caping Desak Prioritas Kuota Beasiswa untuk Anak Nelayan

Jakarta, PR Politik – Lahirnya kampus Ocean Institute of Indonesia (OII) menjadi babak baru bagi lanskap pendidikan kelautan dan perikanan nasional. Penggabungan dari beberapa politeknik kelautan dan perikanan ini menyuntikkan optimisme tinggi akan lahirnya para ahli serta pakar kemaritiman yang mampu bersaing di level nasional hingga global.

Penguatan riset serta iklim budaya akademik di kampus ini diproyeksikan bakal melahirkan pelbagai temuan inovatif sekaligus akselerasi teknologi. Langkah ini dinilai krusial untuk mengoptimalkan sektor kelautan demi mewujudkan implementasi Ekonomi Biru sebagai pilar alternatif kebangkitan ekonomi nasional.

“Saya apresiasi dan ucapkan selamat atas lahirnya kampus baru dengan spirit kelautan perikanan berkelas dunia untuk wujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Salah satu syaratnya adalah lahirnya sumber daya unggul yang mampu bersaing di kelas global,” papar Anggota Komisi IV DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, Riyono Caping, Selasa (4/8).

Ia menyoroti realitas kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor kelautan saat ini yang dinilai masih jauh dari panggang api. Berdasarkan data evaluasi, hampir 80 persen nelayan domestik merupakan lulusan tingkat SD hingga SMP, dan tercatat hanya 1 persen saja dari keluarga nelayan yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi hingga menyandang gelar sarjana. Ketimpangan edukasi ini ditengarai menjadi pemicu utama belum optimalnya hasil laut dalam menyumbang kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.

“Lahirnya OII akan menjadi harapan baru dan tumpuan bagi keluarga nelayan untuk menjadikan putra-putri mereka mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas. Anak-anak nelayan kecil dan tradisional harus mendapatkan porsi yang utama dalam penerimaan mahasiswanya,” tegas politisi yang akrab disapa Riyono Caping tersebut.

Lebih lanjut, Komisi IV mengingatkan bahwa persaingan dunia usaha di sektor maritim global kian ketat. Bahkan, kawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia sejauh ini belum mampu dieksploitasi secara optimal untuk menyumbang pendapatan negara. Keterbatasan SDM ahli dan penguasaan teknologi membuat wilayah ZEE Indonesia kerap menjadi sasaran empuk praktik pencurian ikan (illegal fishing) oleh armada asing berbobot besar, mulai dari 150 hingga 500 Gross Tonnage (GT).

Baca Juga:  Nurhadi Soroti Lemahnya Perlindungan Hukum Tenaga Medis dari Tuduhan Malpraktik Viral

“Kampus Ocean Institute of Indonesia harus bisa menjawab tantangan sektor budidaya, tangkap, dan teknologi pengolahan industri. Harus menjadi ‘Kampus Nelayan Indonesia’ yang akan bersaing dengan kampus negeri dan level dunia sebagai center of excellence di sektor ilmu kelautan perikanan,” katanya.

Pembentukan institusi tunggal berkelas dunia ini tidak lepas dari dorongan konsisten Komisi IV DPR RI yang mengawal pasokan SDM unggulan. Skema pemberian beasiswa penuh bagi para mahasiswa diproyeksikan akan menjadi daya tarik kuat dalam menjaring talenta muda berbakat di sektor kelautan.

“Beasiswa bagi mahasiswa kampus akan semakin mempercepat transformasi pendidikan yang semakin berkualitas. Anak-anak nelayan akan menjadi nelayan ‘berdasi’ yang pergi ke laut bukan sekadar mencari ikan, tetapi menangkap ikan dengan teknologi yang semakin bagus dan hasilnya melimpah,” pungkasnya mengakhiri keterangannya.

sumber : Fraksi PKS

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini