Kutai Timur, PR Politik – Batubara berkalori rendah yang selama ini bernilai ekonomi relatif rendah kini mulai diarahkan menjadi produk yang lebih strategis bagi industri dalam negeri. Melalui pemanfaatan teknologi gasifikasi, komoditas batubara diolah menjadi metanol guna memenuhi pasokan berbagai sektor industri sekaligus mengurangi tingkat ketergantungan pada produk impor.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui peresmian groundbreaking Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batubara menjadi Metanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Senin (31/8). Proyek ini diproyeksikan mampu memproduksi sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp7,1 triliun saban tahunnya.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot, menegaskan bahwa eksekusi PSN ini menjadi pijakan penting dalam menguatkan agenda hilirisasi, ketahanan energi, serta industri nasional.
“Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batubara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional,” ujarnya saat meresmikan peletakan batu pertama di Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur, Senin (31/8).
Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC)—perusahaan konsorsium patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC)—dengan mengoptimalkan pemanfaatan lahan seluas 93 hektare di kawasan BCIP.
Ia berharap skema hilirisasi yang dirintis BEC dapat menjadi percontohan (role model) bagi perusahaan tambang batubara lainnya, mengingat melimpahnya cadangan batubara berkalori rendah di Pulau Kalimantan dan Sumatera.
“Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam (program) Asta Cita,” tegasnya.
Fasilitas ini dirancang untuk mengolah sekitar 7,70 hingga 7,78 juta ton batubara berkalori rendah (3.400 kcal/kg) per tahun guna menghasilkan produk metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade. Pasokan metanol tersebut akan difokuskan untuk menutupi kebutuhan domestik demi menekan impor yang pada 2025 sempat mencapai angka 1,3 juta ton atau setara Rp7,1 triliun.
“Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplayer effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi,” jelasnya.
Guna menunjang operasional, kawasan ini dilengkapi fasilitas reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, terminal pelabuhan, hingga teknologi penangkap emisi berbasis Carbon Capture and Storage (CCS). Hasil metanol nantinya akan mendistribusikan pasokan bagi industri petrokimia, formaldehida, hingga mendukung program B50.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur BEC, Rio Supin, memaparkan bahwa proyek telah memasuki tahap penyusunan Front-End Engineering Design (FEED) serta Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.
“Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target comimsioning tahun 2029 seusai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional,” jelasnya.
sumber : ESDM















