Changsha, PR Politik – Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional, Prof. Ali Mochtar Ngabalin, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan semangat menuntut ilmu sebagai landasan utama dalam mengakselerasi kemajuan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Ngabalin saat memimpin delegasi resmi Partai Golkar memenuhi undangan kunjungan kerja ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dari International Department of the Communist Party of China (IDCPC).
Dalam keterangannya, ia mengaku perjalanan diplomasi dan studi ke Tiongkok tersebut membangkitkan memorinya pada ungkapan populer yang begitu melekat di kalangan umat Islam, yakni Uṭlubul ‘ilma walau biṣ-Ṣīn yang berarti “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.”
“Hadits ini begitu melekat dalam kehidupan umat Islam. Para ulama memang memiliki catatan mengenai kekuatan jalur periwayatannya. Karena itu, kita perlu menyampaikannya secara hati-hati sebagai ungkapan populer yang sejak lama dinisbatkan kepada Rasulullah SAW,” katanya dalam keterangannya, Minggu (19/7).
Ia menerangkan, terlepas dari diskursus kualitas periwayatannya, substansi nilai yang terkandung di dalamnya tetap sangat relevan. Upaya menuntut ilmu pengetahuan membutuhkan kesungguhan tanpa dihalangi oleh sekat geografis, batas negara, maupun perbedaan budaya.
“Pesannya sangat jelas. Ilmu harus dicari dengan kesungguhan. Jarak yang jauh tidak boleh menjadi alasan, begitu pula perbedaan bangsa dan kebudayaan,” ujarnya.
Selama berada di Tiongkok, rombongan delegasi Partai Golkar mengikuti seminar mendalam di Hunan Academy of Governance, Provinsi Hunan. Dalam forum akademik tersebut, para pakar membedah perjalanan panjang transformasi Tiongkok, mulai dari kebijakan reformasi, percepatan modernisasi industri, hingga konsistensi perencanaan pembangunan nasional.
Pengalaman empiris tersebut semakin menguatkan relevansi pesan moral pentingnya berguru hingga ke Negeri Tirai Bambu.
“China hari ini telah berkembang menjadi salah satu pusat pembelajaran dunia. Banyak negara datang untuk mempelajari bagaimana mereka membangun industri, menyiapkan sumber daya manusia, menghubungkan riset dengan dunia usaha, hingga membawa hasil inovasi ke pasar global,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa pada masa lampau, perjalan menuju Tiongkok memerlukan waktu panjang dan keberanian luar biasa. Meski kemajuan moda transportasi saat ini telah memangkas jarak, semangat untuk menyerap ilmu tetap menuntut sikap rendah hati dan keterbukaan pikiran dari keberhasilan bangsa lain.
“Kita harus bersedia mendengar, mengamati, dan mengakui bahwa bangsa lain mungkin telah melakukan sesuatu dengan lebih maju. Sikap seperti inilah yang harus terus dijaga,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa kewajiban menuntut ilmu tidak boleh berhenti pada capaian gelar akademis atau penguasaan teori semata. Pengetahuan yang didapat mutlak harus terkonversi menjadi kemaslahatan, peningkatkan kualitas kerja, dan kesejahteraan masyarakat luas.
“Ilmu yang hanya menjadi kebanggaan pribadi akan kehilangan nilai gunanya. Ilmu harus mampu menyelesaikan persoalan dan membawa kemaslahatan,” tegasnya.
Tiongkok, menurutnya, berhasil membuktikan bagaimana ilmu pengetahuan diolah menjadi daya saing nasional ketika disinergikan dengan industri manufaktur dan dikawal oleh kebijakan pemerintah yang presisi. Hal ini tercermin dari pesatnya kemajuan kereta cepat, ekosistem kendaraan listrik, teknologi digital, hingga energi terbarukan.
Ngabalin secara khusus menyoroti keberhasilan Provinsi Hunan di bawah arahan Presiden Xi Jinping yang berhasil menjelma menjadi pusat manufaktur dan inovasi Tiongkok meskipun berada di wilayah pedalaman.
“Pengalaman Hunan menunjukkan bahwa kemajuan sebuah daerah sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola pengetahuan, bukan semata-mata oleh letak geografis ataupun kekayaan sumber daya alam,” jelasnya.
Ia optimis Indonesia mengantongi modal besar untuk tumbuh menjadi negara maju, disokong kekayaan alam, pasar domestik yang luas, serta demografi generasi muda yang adaptif. Namun, modal tersebut wajib ditopang oleh pembangunan SDM dan penguasaan inovasi secara berkelanjutan.
“Semangat mencari ilmu mengajarkan kita untuk belajar dari siapa pun. Hal yang baik kita ambil, yang relevan kita sesuaikan dengan kebutuhan nasional, sedangkan yang tidak sesuai dapat kita tinggalkan melalui pertimbangan yang matang,” ujarnya.
Menutup keterangannya, ia menekankan bahwa hasil studi delegasi Partai Golkar ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan harus membuahkan rumusan kebijakan nyata untuk memperkuat industri nasional.
“Apa gunanya menempuh perjalanan jauh jika pelajarannya berhenti di ruang seminar? Apa gunanya melihat industri maju jika kita pulang tanpa membawa semangat memperkuat industri nasional?” pungkasnya.
sumber : Partai Golkar















