Perkuat Rantai Pasok Indo-Pasifik, Indonesia dan India Sepakat Perluas Kolaborasi Industri Kendaraan Listrik hingga Semikonduktor

Jaipur, PR Politik – Indonesia dan India memiliki peluang besar untuk memperluas kolaborasi sektor industri, mulai dari ekosistem kendaraan listrik hingga transformasi industri digital. Sebagai dua negara dengan pasar domestik raksasa serta basis manufaktur yang tangguh, Indonesia dan India dinilai memiliki struktur industri yang saling melengkapi dalam memperkuat rantai pasok di kawasan Indo-Pasifik.

Peluang strategis tersebut menjadi salah satu poin utama dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, dengan Menteri Negara Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah India, Jitin Prasada, yang berlangsung di sela-sela agenda 10th BRICS Industry Ministers’ Meeting di Jaipur, India.

Ia menegaskan bahwa dinamika saat ini merupakan momentum yang paling tepat untuk mengeskalasi kerja sama industri kedua negara menuju tahap yang lebih konkret dan implementatif.

“Kami berharap pertemuan ini dapat semakin mempererat hubungan kedua negara sekaligus membuka peluang kolaborasi industri yang lebih konkret, implementatif, dan saling menguntungkan,” ujarnya dalam agenda bilateral meeting dengan pemerintah India, di Jaipur pekan lalu.

Pertemuan bilateral ini menjadi penjelmaan komitmen atas semakin eratnya hubungan diplomasi kedua negara pascakunjungan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto ke India pada peringatan Republic Day 2025, serta kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026. Rangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut memancarkan babak baru kerja sama di sektor perdagangan, investasi, kesehatan, farmasi, hilirisasi industri, hingga pengembangan sumber daya manusia.

Kemitraan dagang antara kedua negara mencatatkan tren positif. Nilai perdagangan Indonesia dan India pada tahun 2025 menembus angka USD 23,16 miliar, di mana ekspor Indonesia menyumbang USD 18,32 miliar dan nilai impor berada di angka USD 4,84 miliar. Meski demikian, penurunan ekspor produk industri pengolahan nonmigas Indonesia ke India dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian mendalam, sehingga pembukaan akses pasar produk manufaktur nasional menjadi pembahasan prioritas.

Baca Juga:  Proyeksi 119,5 Juta Orang Bergerak, Kemenhub Siapkan Diskon Tol 20% dan 31 Ribu Bus Hadapi Lonjakan Nataru

Momen ini kian krusial lantaran berlangsung saat Indonesia resmi menyandang status sebagai anggota penuh BRICS, yang membuka pintu kolaborasi industri lebih luas bersama negara anggota, khususnya India.

Dalam forum tersebut, Pemerintah India menyambut positif usulan kerja sama konkret yang diajukan Indonesia pada sektor strategis, terutama pengembangan industri hijau, semikonduktor, dan industri agro. Di sisi lain, pihak India menyampaikan perhatian khusus terkait kebijakan pembatasan kuota impor atas sejumlah komoditasnya ke Indonesia, yang akan diteruskan oleh delegasi Indonesia kepada kementerian teknis terkait.

Pertemuan bilateral di Jaipur ini mempertegas langkah Indonesia dalam memperluas jangkauan rantai pasok manufaktur global sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai mitra strategis India dalam pembangunan industri yang berkelanjutan.

sumber : Kemenperin

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini