Perkuat Kedaulatan Pangan, Kemendikdasmen Dorong Revitalisasi SMK Pertanian Berbasis Teknologi Modern

Jakarta, PR Politik – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan Indonesia sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia lulusan vokasi. Hal ini disampaikan dalam Simposium Penyelarasan dan Revitalisasi Vokasi Bidang Ketahanan Pangan bertajuk “Dari SMK untuk Kedaulatan Pangan Bangsa”.

Menurut Atip, peran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bidang pertanian, perikanan, dan peternakan harus bertransformasi untuk mengawal seluruh ekosistem pangan dari hulu hingga hilir.

“Ketahanan pangan hari ini tidak cukup dipahami hanya dari ketersediaan bahan pangan. Kita bicara tentang ketahanan sistem produksi, rantai pasok, dan sumber daya manusianya. Di sinilah peran SMK bidang pangan menjadi sangat strategis,” ujar Atip Latipulhayat di Jakarta, Senin (8/12).

Menghadapi tantangan perubahan iklim yang mengancam produksi komoditas utama, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menilai penguasaan teknologi modern oleh siswa SMK adalah kunci efisiensi.

“Siswa SMK yang menguasai teknologi modern, seperti smart farming dan sistem irigasi cerdas, dapat meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi food loss, dan berkontribusi nyata terhadap ketahanan pangan nasional,” jelas Arif. Ia menekankan bahwa mekanisasi dan pemupukan presisi memungkinkan peningkatan produktivitas tanpa harus melakukan ekpansi lahan.

Direktur SMK, Arie Wibowo Khurniawan, menyoroti pentingnya menciptakan ekosistem yang menjanjikan bagi lulusan agar mau berkarier di sektor ini. Ia menyebut SMK masa depan harus berperan sebagai inkubator UMKM hingga mitra strategis proyek food estate.

“Sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menyerap lulusan SMK apabila terdapat keberpihakan pada sisi permintaan, misalnya melalui penghasilan tetap bagi petani atau nelayan muda, sehingga generasi muda tertarik untuk berkarir di bidang tersebut,” ungkap Arie.

Baca Juga:  Kementerian PU Genjot Pembangunan Bendungan Bulango Ulu, Progres Capai 85,6%

Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan KKP, Alan Frendy Koropitan, menambahkan bahwa SMK harus menjadi aktor utama, terutama dalam mendukung “ekonomi biru” di wilayah pesisir.

“SMK harus menjadi aktor utama dalam ekosistem ketahanan pangan, bukan sekadar pengikut. Pendidikan vokasi harus menjawab kebutuhan nyata di lapangan,” tegas Alan.

Senada dengan hal tersebut, pihak industri yang diwakili oleh Vice President PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Agus Wahyudi, menyatakan bahwa tenaga kerja terampil dari SMK adalah komponen vital bagi industri pangan nasional.

“Ketahanan pangan adalah kemampuan suatu negara untuk menjamin ketersediaan pangan yang cukup aman, bergizi dan terjangkau bagi seluruh penduduk. Industri pangan membutuhkan tenaga kerja terampil, di sinilah peranan SMK sangat penting,” tutup Agus.

Simposium ini menyimpulkan bahwa penguatan kompetensi vokasi yang bersinergi dengan lembaga riset dan industri akan menjadi mesin utama bagi terwujudnya kedaulatan pangan nasional yang berkelanjutan.

sumber : Kemendikdasmen RI

Bagikan:

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru