Peringati Hari Lahan Basah Sedunia, Wamenhut Tegaskan Lahan Basah Sebagai “Ginjal Bumi” dan Benteng Iklim

Jakarta, PR Politik – Kementerian Kehutanan memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day/WWD) 2026 dengan menggelar aksi kampanye edukatif di tengah kegiatan Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (8/2). Peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran krusial lahan basah dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mitigasi krisis iklim.

Mengusung tema “Rawat Tradisi Lahan Basah Lestari”, kegiatan ini diisi dengan jalan sehat, pembagian bibit pohon gratis, hingga edukasi lingkungan mengenai kekayaan alam Indonesia.

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut), Rohmat Marzuki, yang hadir mewakili Menteri Kehutanan, memberikan perumpamaan penting mengenai fungsi lahan basah bagi kesehatan planet.

“Lahan basah adalah ginjalnya bumi. Ibarat ginjal mereka bekerja secara senyap, mereka menyaring polusi atau penyemaran, melindungi pantai, dan mereka juga benteng pertahanan terhadap iklim, yang menyerap karbon lebih besar dibanding hutan tropis,” ujarnya.

Wamenhut menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen penuh menjaga ekosistem lahan basah yang luas di tanah air. Berdasarkan data kementerian, Indonesia memiliki 3,4 juta hektar mangrove (80% di dalam kawasan hutan) dan 20,7 juta hektar rawa gambut (74% di dalam kawasan hutan).

Kementerian Kehutanan juga mengawal pengelolaan delapan Situs Ramsar yang diakui secara internasional sebagai wilayah konservasi dengan nilai keanekaragaman hayati tinggi.

“Ini adalah aset strategis yang harus kita jaga, kita lestarikan untuk pengendalian iklim dan pelindungan dari bencana,” tuturnya.

Sebagai tindak lanjut dari Konvensi Ramsar yang diratifikasi sejak 1991, Indonesia telah mendaftarkan delapan lokasi sebagai Situs Ramsar dengan total luas lebih dari 1,3 juta hektar, mulai dari Taman Nasional Berbak di Jambi hingga Taman Nasional Wasur di Papua Selatan.

Selain kawasan konservasi, Indonesia juga mencatatkan prestasi lewat akreditasi Wetland City tingkat dunia yang diraih oleh Kota Surabaya dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Prestasi ini menunjukkan bahwa tata kelola lahan basah di wilayah perkotaan Indonesia telah diakui secara global.

Baca Juga:  Minat Masuk SMK Binaan Kemenperin Pecah Rekor, Rasio Pendaftar Capai 1:10,7

Wamenhut Rohmat menutup orasinya dengan ajakan bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam pelestarian alam.

“Mari kita pastikan bahwa lahan basah di Indonesia tetap menjadi warisan buat anak, cucu kita dan masa depan Indonesia,” pungkasnya.

sumber : Kemenhut RI