Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKS, Muh. Haris, menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas viralnya kasus Yurizal Tri Chaerawan. Yurizal merupakan seorang peserta BPJS Kesehatan yang sempat mengeluhkan lamanya waktu tunggu untuk mendapatkan ruang perawatan melalui media sosial, namun justru menerima berbagai komentar yang tidak berempati, termasuk dari sejumlah oknum tenaga kesehatan (nakes). Beberapa hari setelah unggahan tersebut, Yurizal diketahui meninggal dunia.
Menurutnya, peristiwa memprihatinkan tersebut menjadi tamparan keras bagi dunia pelayanan kesehatan nasional. Selain menjadi bahan evaluasi mendasar terhadap sistem pelayanan BPJS Kesehatan dan rumah sakit, kasus ini juga menunjukkan urgensi penguatan etika profesi serta empati tenaga kesehatan dalam berinteraksi dengan pasien, baik di ruang perawatan fisik maupun di ruang digital.
“Saya sangat prihatin melihat seorang pasien yang sedang berjuang melawan penyakit justru mendapat komentar yang merendahkan dari oknum tenaga kesehatan. Apa pun situasinya, pasien adalah manusia yang sedang membutuhkan pertolongan dan penguatan, bukan cibiran ataupun perundungan,” ujarnya, Jumat (7/8).
Ia menegaskan bahwa setiap kritik maupun keluhan yang dilayangkan oleh pasien seharusnya dipandang secara positif sebagai masukan berharga untuk memperbaiki kualitas pelayanan, bukan malah dianggap sebagai serangan terhadap korps profesi tenaga kesehatan.
“Keluhan pasien adalah bagian dari evaluasi pelayanan. Respon yang tepat adalah mendengarkan, mengevaluasi, lalu memperbaiki, bukan membalas dengan komentar yang melukai. Empati adalah bagian yang tidak terpisahkan dari profesionalisme tenaga kesehatan,” tegasnya.
Selain menyoroti aspek moralitas dan etika di media sosial, legislator PKS ini juga mendesak kementerian teknis, manajemen BPJS Kesehatan, dan asosiasi rumah sakit untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap operasional pelayanan. Hambatan terkait lamanya waktu tunggu pasien dalam memperoleh kamar perawatan menjadi poin utama yang harus diurai demi menghadirkan kepastian, kecepatan, serta rasa aman bagi publik.
“Jangan sampai masyarakat merasa bahwa menggunakan BPJS berarti harus menerima waktu tunggu yang panjang tanpa kepastian. Persoalan ketersediaan tempat tidur, tata kelola rujukan, dan koordinasi antar fasilitas kesehatan harus terus dibenahi agar pelayanan semakin cepat dan berkualitas,” lanjutnya.
Lebih lanjut, ia mendorong organisasi profesi kedokteran dan keperawatan, jajaran direksi rumah sakit, serta institusi pendidikan tinggi kesehatan untuk menjadikan tragedi ini sebagai momentum emas. Lembaga-lembaga tersebut diminta memperketat pembinaan karakter, penegakan etika profesi, hingga literasi bermedia sosial bagi segenap tenaga kesehatan.
“Mayoritas tenaga kesehatan telah mengabdikan diri dengan penuh dedikasi dan melayani masyarakat tanpa mengenal lelah. Namun tindakan segelintir oknum yang menunjukkan sikap tidak berempati tidak boleh dibiarkan mencederai kepercayaan publik terhadap profesi yang sangat mulia ini. Harus ada evaluasi dan pembinaan yang serius agar kejadian serupa tidak terulang,” urainya.
Ia berharap berpulangnya Yurizal menjadi pengingat abadi bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak semata-mata diukur dari kecanggihan fasilitas penunjang atau keberhasilan tindakan medis di meja operasi, melainkan dari penghormatan tulus terhadap martabat kemanusiaan pasien.
“Pelayanan kesehatan yang baik bukan hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga menghadirkan empati dan rasa kemanusiaan. Jangan sampai ada lagi pasien yang merasa sendirian ketika mencari pertolongan. Tragedi ini harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih manusiawi,” pungkasnya menyudahi taklimatnya.
sumber : Fraksi PKS















