Jakarta, PR Politik – Kementerian Pertanian (Kementan) merangkul petani, pelaku usaha, dan industri pengolahan untuk mempercepat hilirisasi perkebunan. Melalui Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan menetapkan peta jalan 2025–2027 yang berfokus pada peningkatan produksi, nilai tambah, dan daya saing komoditas strategis nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto dengan mengumpulkan para petani dan pelaku usaha. Mentan Amran menegaskan hilirisasi adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani. “ Kami ingin petani mendapatkan nilai tambah dari hasil perkebunan mereka,” ujarnya.
Mentan Amran juga menyampaikan strategi hilirisasi yang meliputi diversifikasi produk, penguatan kemitraan, dan perluasan pasar. “Pupuk sudah oke, kredit dapat diakses, subsidi bibit disediakan. Perintah Bapak Presiden jelas, tingkatkan kesejahteraan petani khususnya pekebun tebu, kakao, kelapa,kopi, jambu mete, pala dan lada. Petani tidak boleh lagi hanya menjual bahan mentah. Kita dorong industri di dalam negeri untuk menyerap hasil perkebunan sehingga nilai tambahnya tinggal di Indonesia,” tegasnya.
Sekretaris Jenderal Kementan, Ali Jamil, menambahkan bahwa pihaknya telah mengusulkan Anggaran Biaya Tambahan (ABT) untuk 2025–2027 guna mendukung kegiatan hilirisasi. “Anggaran ini akan difokuskan pada sarana dan prasarana produksi di hulu untuk memastikan ketersedian bahan baku dan agar rantai pasok perkebunan semakin efisien,” jelasnya.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, mengatakan program ini akan difokuskan pada komoditas unggulan seperti tebu, kelapa, kakao, dan kopi.
“Kita ingin hilirisasi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani, industri, dan pasar global,” ujarnya.
Direktur Utama PTPN 1 menyatakan kesiapan industri pengolahan untuk menyerap hasil perkebunan dalam negeri. Kementan optimistis strategi ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen dan pengekspor produk perkebunan dunia, sekaligus.
sumber : Kementan RI















