Jakarta, PR Politik – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) nasional melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL). Teknologi ini mengandalkan derasnya kinetik arus bawah laut untuk memutar turbin guna menghasilkan energi listrik ramah lingkungan.
Berdasarkan hasil analisis data pengukuran arus laut, KKP menetapkan perairan Nusa Penida, Bali, sebagai lokasi prioritas pengembangan proyek EBT tersebut. Pemilihan lokasi ini turut mempertimbangkan kesiapan interkoneksi jaringan listrik, jaringan transportasi, serta dukungan kebijakan daerah.
“Ruang laut kita menyimpan potensi EBT yang luar biasa besar mulai dari energi angin pesisir (offshore wind), energi surya terapung (floating solar PV) hingga energi arus laut dan gelombang. Untuk mengubah potensi ini menjadi sumber daya yang berdaya guna, dibutuhkan tata kelola ruang yang presisi, integratif, dan berkelanjutan,” terang Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP, Kartika Listriana, dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (22/7).
Kartika menggarisbawahi bahwa tantangan utama pengelolaan maritim saat ini adalah menyelaraskan ekspansi ekonomi hijau dan biru dengan mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, penetapan ruang laut harus dikawal secara terencana, berkeadilan, dan terukur.
“Sinergi antarpemangku kepentingan merupakan kunci utama agar regulasi dan instrumen kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut yang kita susun dapat adaptif terhadap perkembangan teknologi energi masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Bali, I Wayan Koster, menegaskan komitmennya untuk membawa Provinsi Bali menuju kemandirian energi bersih berbasis potensi lokal.
Dalam forum diskusi tata ruang laut EBT di Bali baru-baru ini, Koster menargetkan operasional PLTAL Nusa Penida dapat terealisasi secara penuh pada tahun 2029 mendatang.
“Kami akan menyiapkan rancangan Keputusan Gubernur untuk menetapkan Nusa Penida sebagai kawasan rendah karbon (low emission),” ujarnya optimistis.
Peluang emas pemanfaatan arus laut Indonesia sebagai sumber EBT utama juga diamini oleh pakar EBT Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus peneliti di University of Maryland AS, Dwi Susanto.
Ia mengingatkan bahwa besarnya kalkulasi potensi maritim Indonesia tidak akan memberikan dampak ekonomis dan ekologis tanpa adanya eksekusi kebijakan yang nyata di lapangan.
“Potensi energi dari arus laut hanya akan menjadi sebatas angka potensi saja jika tidak ada aksi dari masyarakat dan dukungan dari pemerintah untuk memanfaatkannya,” pungkasnya menandaskan.
sumber : KKP RI















