Tingkatkan Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya, Kemenperin Pacu Digitalisasi dan Program Pendampingan Usaha

Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memfokuskan strategi untuk mendongkrak daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) di sektor fesyen dan kriya. Langkah ini diambil agar para pelaku usaha mampu menangkap peluang pasar yang semakin luas di tengah ketatnya arus persaingan. Salah satu kebijakan strategis yang diakselerasi adalah optimalisasi teknologi dan pemanfaatan kanal digital, tidak sekadar sebagai media pemasaran melainkan untuk membangun identitas merek (brand identity), memperluas jangkauan pasar, serta mempererat relasi dengan konsumen.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa transformasi digital menjadi fondasi utama bagi pelaku IKM untuk menaikkan skala bisnis (scaling up) dan menembus pasar global. Perubahan perilaku konsumen modern menuntut kesiapan industri untuk cepat beradaptasi dengan platform digital.

“Pelaku IKM saat ini harus memanfaatkan berbagai kanal digital, termasuk sektor IKM fesyen dan kriya yang perlu membangun identitas merek, menciptakan narasi untuk meningkatkan nilai produknya, memahami karakter konsumen, serta menentukan strategi dan jenis konten yang sesuai dengan bisnisnya,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (21/8).

Langkah Kemenperin memberi perhatian serius pada sektor fesyen dan kriya didasari oleh kontribusi ekonominya yang terus meningkat secara signifikan. Pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional mencatatkan lonjakan positif dari 2,43 persen pada tahun 2024 menjadi 4,93 persen pada tahun 2025.

“Potensi tersebut harus terus kita optimalkan. Pelaku IKM harus semakin adaptif, inovatif, dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai instrumen untuk memperkuat daya saing. Dengan strategi yang tepat, IKM kita memiliki peluang yang semakin besar untuk naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas,” ujarnya.

Guna mewujudkan target tersebut, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di bawah Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) secara konsisten menggelar program pendampingan, salah satunya melalui wadah Creative Talk yang menjadi bagian dari Creative Business Incubator (CBI).

Baca Juga:  Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan, Menhan Sjafrie Terima KSAD Yordania Jelang Kunjungan Raja Abdullah II

Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, menjelaskan bahwa dalam gelaran Creative Talk luring di Gedung Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung, Bali, pertengahan Agustus lalu, para pelaku IKM dibekali pemahaman dalam menentukan kanal digital yang tepat sesuai profil konsumen.

Dalam forum tersebut, BPIFK menghadirkan praktisi IKM sukses, seperti pendiri jenama Kominela, Komang Meilia, serta pemilik Tanteri Ceramic, I Putu Oka Mahendra. Pembahasan berfokus pada pentingnya pemetaan Customer Journey guna memahami pola interaksi konsumen dari tahap pengenalan produk hingga fase pascatransaksi.

“Dari pengalaman para pelaku usaha tersebut, kita dapat melihat bahwa membangun identitas merek, nilai produk, serta kepercayaan pelanggan secara konsisten sangat penting agar produk semakin mudah dikenali dan memiliki hubungan yang kuat dengan konsumennya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa interaksi tidak boleh berhenti begitu saja setelah penjualan selesai. “Menjaga hubungan dengan konsumen merupakan bagian penting dalam perjalanan tersebut. Artinya, komunikasi dengan konsumen tidak berhenti setelah transaksi dilakukan. Hubungan yang baik justru perlu terus dibangun agar dapat menciptakan loyalitas,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPIFK, Dickie Sulistya, menyebutkan dinamisnya perubahan di dunia digital menuntut kewirausahaan IKM yang fleksibel. Selain sesi luring, BPIFK juga menyelenggarakan Creative Talk secara daring yang diikuti 94 peserta dari berbagai kalangan.

“Para narasumber telah membuktikan bahwa keunggulan dalam bersaing tidak selalu harus dibangun dengan menciptakan produk yang sepenuhnya baru. Desain, kualitas, cerita di balik produk, hingga pelayanan kepada konsumen dapat menjadi bagian dari pembeda sebuah merek,” katanya.

Riset pasar yang mendalam serta kemampuan membangun narasi autentik (storytelling) menjadi kunci penting yang direkomendasikan mentor CBI Isti Budhi Setiawati serta pendiri IKM daur ulang Robries, Tita Sabrina. Melalui integrasi teknologi dan pendampingan berkelanjutan ini, Kemenperin optimistis IKM fesyen dan kriya Indonesia tidak hanya mampu bertengger di pasar domestik, tetapi juga sukses memperluas penetrasi ke pasar global.

Baca Juga:  Indonesia-Rusia Perkuat Kerja Sama Industri, Finalisasi MoU Perkapalan hingga Jajaki Investasi Infrastruktur

sumber : Kemenperin