Timbunan Sampah Mengancam TPA, Wamen LH Diaz Hendropriyono Ajak Mahasiswa Tekan Perilaku Konsumtif

Surabaya, PR Politik – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mengajak kalangan mahasiswa untuk aktif menekan perilaku konsumtif demi menyokong kelestarian lingkungan hidup dan menahan laju timbunan limbah nasional.

“Apa yang bisa dilakukan sebagai pelajar? Kalian bisa memanfaatkan transportasi umum semaksimal mungkin, pastikan untuk menggunakan barang-barang lokal untuk mengurangi emisi dari logistik, dan yang terpenting, usahakan untuk tidak konsumtif, karena semakin banyak kalian mengonsumsi, semakin banyak limbah yang dihasilkan,” ajaknya secara daring.

Imbauan tersebut disampaikan Wamen LH saat membuka agenda The 6th Summer School on Resilient Futures: Multidisciplinary Strategies for Climate Adaptation and Disaster Risk Reduction yang digelar di ASEEC Tower, Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Program akademik pascasarjana ini diikuti mahasiswa internasional dari berbagai negara, seperti Afganistan, Mesir, India, Italia, Malaysia, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Taiwan, hingga Uganda.

Ia mengingatkan bahwa eskalasi pola konsumsi berbanding lurus dengan peningkatan volume sampah dan jejak emisi karbon. Ia mendorong generasi muda untuk mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan dari langkah-langkah kecil.

“Produksi yang berlebihan menimbulkan dampak buruk, tidak hanya berupa emisi, tetapi juga limbah. Makan secara berlebihan menghasilkan food waste, produksi pakaian berlebihan menghasilkan limbah pakaian, dan penggunaan plastik sekali pakai yang berlebihan menghasilkan limbah plastik, sehingga semakin banyak pula masalah yang timbul,” tegasnya.

Kondisi tersebut kian krusial mengingat buruknya tata kelola sampah nasional. Diaz membeberkan bahwa penumpukan limbah di berbagai Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berisiko memicu bencana lingkungan serta ancaman kesehatan bagi warga sekitar.

“Dari seluruh sampah yang kita hasilkan setiap tahun sebagai masyarakat Indonesia, hanya 25% yang berhasil dikelola. Banyak yang berakhir di TPA, namun kebanyakan sampah tersebut tidak dipilah atau dikelola dengan baik. Penumpukan sampah ini dapat memicu risiko kebakaran, terutama dengan adanya fenomena El Niño yang dampaknya diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September,” paparnya membedah krisis pengelolaan sampah.

Baca Juga:  Targetkan Swasembada Energi, Menaker Bahlil Siap Buka Tender 110 Blok Migas Baru

Di akhir pemaparannya, ia mengajak peserta merefleksikan kembali hubungan historis antara peradaban manusia dengan ekosistem air. Kondisi sungai-sungai Indonesia yang kian tercemar menjadi bukti nyata belum optimalnya sistem penanganan limbah domestik maupun industri.

“Di mana peradaban manusia berawal? Mengapa peradaban manusia berkembang di sepanjang lembah sungai? Karena kita membutuhkan air. Namun ironisnya, mengapa kita mencemari sungai kita hari ini? Jadi, inilah dampaknya, dampak dari pengelolaan limbah yang tidak baik,” tuturnya.

Agenda internasional di Kampus Unair Surabaya tersebut turut dihadiri langsung oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Unair, Prof. Moch. Amin Alamsjah, serta Direktur Sekolah Pascasarjana Unair, Prof. Achmad Chusnu Romdhoni, guna memperkuat sinergi akademis dalam perumusan strategi adaptasi iklim global.

sumber : Kemenlh RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini