Tembus Pasar Global Melalui Sustainable Fashion, Kemenperin Gandeng Universitas Ciputra Pacu Diversifikasi 482 Sentra Tenun

Kediri, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menggenjot draf pengembangan industri kain tenun nasional lewat serangkaian program peningkatan nilai tambah (value added) dan diversifikasi produk. Manuver taktis ini digulirkan guna memperlebar sayap penetrasi pasar, baik di ceruk domestik maupun pasar ekspor global. Langkah tersebut dinilai strategis untuk mempertebal daya saing pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) tenun sekaligus melestarikan wastra warisan leluhur yang bernilai ekonomi makro tinggi.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, memaparkan bahwa industri kain tenun merupakan salah satu subsektor industri tekstil yang mengantongi draf potensi sangat menjanjikan untuk dipacu pertumbuhannya. Di samping sarat akan nilai historis dan kultural, keunikan motif kain tenun Indonesia diklaim mampu bertindak sebagai keunggulan kompetitif di panggung internasional.

“Biasanya di benak masyarakat, wastra Indonesia identik dengan batik. Padahal, Indonesia juga memiliki kain tenun yang eksotis dan kaya ragam. Berbagai daerah memiliki tenun dengan ciri khas masing-masing, baik dari teknik pembuatan, motif, warna, maupun bahan bakunya,” urainya dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut analisisnya, rekayasa pengembangan industri tenun ini pararel dengan tren sustainable fashion (fesyen berkelanjutan) yang saat ini tengah digandrungi pasar dunia. Oleh sebab itu, diperlukan draf lompatan strategis agar kain tenun tradisional bisa bertransformasi menjadi komoditas sandang harian yang populer.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengungkapkan bahwa fondasi industri tenun nasional ditopang secara kokoh oleh keberadaan 482 sentra IKM tenun yang tersebar masif di berbagai yurisdiksi daerah.

“Berdasarkan data Pusdatin Kemenperin, ekspor produk tenun ikat Indonesia pada tahun 2025 mencapai 14,1 ton dengan nilai sebesar US$88.600. Capaian ini menunjukkan bahwa produk tenun tradisional memiliki peluang pasar internasional yang perlu terus ditingkatkan sehingga mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya merinci draf rapor perdagangan luar negeri wastra nusantara.

Baca Juga:  Kinerja ESDM On Track: PNBP Capai Rp200,66 T per 10 November 2025, Anggaran 2026 Fokus Program Pro-Rakyat

Kendati demikian, ia tidak menampik adanya barisan tantangan siber dan lapangan yang masih membayangi para perajin lokal, terutama pada klaster pembaruan desain dan diversifikasi produk. Perubahan tren pasar global yang bergerak super cepat menuntut IKM daerah untuk adaptif melakukan draf pembenahan produk agar tidak tergilas zaman.

“Selama ini kain tenun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan formal dan tradisional, seperti busana pernikahan maupun upacara adat. Padahal, tenun memiliki motif, warna, dan karakter bahan yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi berbagai produk fesyen yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya membedah draf kelesuan pasar akibat pola pemakaian yang kaku.

Merespons draf kendala tersebut, ia berkolaborasi erat dengan Dekranasda Kota Kediri dan Universitas Ciputra Surabaya untuk menggelar program Bimbingan Teknis (Bimtek) Diversifikasi Produk Tenun di Kota Kediri pada 18–22 Mei 2026. Agenda akselerasi ini sekaligus menjadi bagian dari draf kalender menyambut HUT Dekranas yang puncaknya bakal diorkestrasi di Sulawesi Selatan pada Juli 2026 mendatang.

Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa pemilihan Kota Kediri didasarkan pada reputasi daerah tersebut sebagai sentra tenun ikat berkualitas jempolan dengan draf harga kompetitif di pasar.

“Diversifikasi bukan berarti meninggalkan budaya. Justru melalui kreativitas dan inovasi, nilai budaya yang terkandung dalam tenun dapat terus hidup dan semakin relevan dengan perkembangan selera pasar saat ini,” urainya menegaskan prinsip modernisasi budaya.

Dalam draf operasional bimtek tersebut, sebanyak 10 pelaku IKM fesyen dipasangkan secara hibrida dengan 10 perajin IKM tenun. Langkah kolaboratif ini ditujukan untuk melahirkan variasi produk fesyen kasual siap pakai (ready-to-wear), mulai dari pakaian sehari-hari, tas etnik, aksesoris garmen, hingga alas kaki kontemporer, di bawah supervisi tim instruktur Program Studi Desain Fesyen Universitas Ciputra Surabaya.

Baca Juga:  Pemerintah Terus Dorong Program Pembangunan 3 Juta Rumah per Tahun di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto

Gayung bersambut, Ketua Dekranasda Kota Kediri Faiqoh Azizah Mohamad Qowimuddin beserta Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Kediri M. Ridwan, melayangkan draf apresiasi tertulis kepada Kemenperin. Mereka optimistis, sinergi lintas kelembagaan ini tidak sekadar memperkuat mata rantai pasok industri kreatif daerah, melainkan membuka draf ceruk bisnis baru yang andal menyerap tenaga kerja lokal dalam skala makro.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru