Manila, PR Politik – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Manila berkolaborasi dengan Soendari Batik & Art, Universitas Negeri Malang, dan Universitas De La Salle menggelar pameran kebudayaan bertajuk “Indonesian Batik Exhibition”. Pergelaran seni internasional ini dihentak di Learning Common Exhibition Area, Universitas De La Salle, Filipina, sepanjang koridor 15-20 Juni 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “From Java to Manila: Batik Terang Bulan As Living Heritage” tersebut menampilkan deretan karya seni budaya tekstil Indonesia melalui lembaran kain batik serta dokumentasi sejarah pembuatan kain batik Terang Bulan. Pameran diplomasi kultural ini dibuka secara resmi oleh Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Manila, Victorina Hesti Dewayani, pada Senin (15/6). Penyelenggaraan pameran didasari oleh komitmen kuat untuk merayakan, menafsirkan ulang, serta melestarikan batik sebagai tradisi budaya dinamis yang melampaui batas-batas yurisdiksi negara.
Berakar pada warisan tekstil Jawa yang melimpah dan beragam, Batik Terang Bulan mencerminkan sebuah keindahan dan estetika unik. Corak ini ditandai oleh kontras warna yang cerah, motif yang rumit, serta kandungan makna simbolis yang terbentuk melalui pertukaran budaya selama berabad-abad.
Berawal dari perjalanan historis yang dipengaruhi jaringan perdagangan pesisir, interaksi kolonial, dan pertukaran budaya lintas batas, gaya batik Terang Bulan mewakili perpaduan budaya. Di sinilah kearifan lokal berpadu mesra dengan arus global, menjadikannya lensa yang ideal untuk menjelajahi warisan budaya bersama (shared heritage) di kawasan Asia Tenggara.
Pameran ini bertujuan untuk memperkenalkan karya adiluhung Indonesia sekaligus mempererat hubungan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Filipina, khususnya pada klaster pertukaran budaya serta hubungan antar-masyarakat (people-to-people contact). Melalui media batik, pameran ini mengajak para pengunjung untuk merenungkan bagaimana warisan budaya terus-menerus ditafsirkan ulang melalui mobilitas, adaptasi, dan ruang dialog.
Sirkuit pameran menghadirkan pilihan karya eksklusif dari Gotikswan dan Soekarno yang dikemas lewat media fotografi serta kain batik, ragam koleksi Batik Terang Bulan, alat membatik tradisional, literatur buku, film dokumenter, hingga komparasi tekstil seni khas Filipina. Agenda internasional ini diharapkan dapat memperkokoh ikatan budaya di Asia Tenggara, sekaligus menegaskan relevansi batik yang abadi sebagai warisan bersama dan sumber inspirasi kreatif di dunia yang saling terhubung.
Dukungan penuh yang digelontorkan oleh KBRI Manila bertindak sebagai salah satu langkah taktis pemerintah untuk melestarikan batik sebagai tradisi budaya dinamis sekaligus identitas nasional Indonesia yang telah sah diakui oleh UNESCO.
Menutup laporannya, lewat langkah membawa tradisi Batik Jawa ke Manila, KBRI menargetkan pasokan informasi sejarah ini dapat diserap dengan baik oleh kalangan mahasiswa serta publik Filipina. Diplomasi kebudayaan yang bersih dari sekat birokrasi kaku ini diproyeksikan ampuh mengunci jalinan persahabatan yang akuntabel, transparan, dan berkelanjutan di masa depan.
sumber : Kemlu RI















