Targetkan PDB 5,51 Persen, Menperin Luncurkan Strategi Baru Industri Nasional untuk Perkuat Manufaktur 2026

Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menetapkan target ambisius bagi sektor manufaktur nasional pada tahun 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, industri pengolahan nonmigas diproyeksikan tumbuh sebesar 5,51 persen, mempertegas posisinya sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan optimismenya terhadap penguatan fondasi industri dalam negeri. Hal ini didorong oleh beroperasinya ribuan perusahaan baru hasil investasi tahun sebelumnya.

“Industri manufaktur tetap tumbuh di atas 5 persen dan berperan sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Kami optimistis kinerja ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan sepanjang tahun 2026,” ujarnya Agus Gumiwang di Jakarta, Kamis (15/1).

Kapasitas produksi nasional dipastikan meningkat seiring dengan rencana mulai berproduksinya 1.236 perusahaan industri baru pada tahun ini. Proyeksi ini didukung oleh nilai investasi sektor pengolahan nonmigas yang mencapai Rp551,88 triliun.

Ekspansi besar-besaran ini diperkirakan akan menyerap 218.892 tenaga kerja baru. Secara keseluruhan, sektor industri manufaktur ditargetkan mampu menyerap 14,68 persen dari total tenaga kerja nasional pada 2026 dengan tingkat produktivitas per orang mencapai Rp126,20 juta per tahun.

“Kapasitas produksi baru yang mulai beroperasi pada 2026 menjadi faktor penting dalam menjaga pasokan industri, memperkuat struktur manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja baru,” tambahnya.

Guna menghadapi tantangan struktural, Kemenperin menginisiasi Strategi Baru Industri Nasional (SBIN). Strategi ini dirancang untuk menyelaraskan kebijakan industri dengan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam mewujudkan kemandirian pangan, energi, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

SBIN mengedepankan pendekatan forward and backward linkage untuk memastikan integrasi yang kuat antara sektor hulu dan hilir. “Strategi Baru Industri Nasional menjadi acuan dalam memperkuat struktur industri nasional sejalan dengan agenda besar Presiden Prabowo dalam membangun industri yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Baca Juga:  Perkuat Tata Kelola Hutan, Menhan Sjafrie dan Menhut Raja Juli Bahas Integrasi Polhut ke Komponen Cadangan

Kemenperin mencatat bahwa sekitar 80 persen pertumbuhan industri masih ditopang oleh permintaan domestik. Pemerintah berkomitmen memperkuat kebijakan substitusi impor dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) agar industri lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Kami memastikan produk industri dalam negeri menjadi tuan rumah di pasar domestik. Penguatan pasar dalam negeri menjadi jangkar utama pertumbuhan industri manufaktur,” tegasnya.

Beberapa subsektor yang diprediksi tumbuh pesat antara lain:

  • Industri Logam Dasar: Didorong oleh hilirisasi dan proyek infrastruktur.

  • Industri Makanan dan Minuman: Tetap menjadi kontributor PDB terbesar.

  • Industri Kimia dan Farmasi: Meningkat seiring tingginya permintaan produk kesehatan.

Sementara dari sisi ekspor, produk manufaktur ditargetkan menyumbang 74,85 persen dari total ekspor nasional. Melalui SBIN dan penguatan sisi suplai maupun permintaan, pemerintah yakin sektor manufaktur akan tetap menjadi jangkar pertumbuhan ekonomi yang resilien di tahun 2026.

sumber : Kemenperin RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini