Jakarta, PR Politik – Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka), Eko Yuliarti Siroj, menegaskan bahwa institusi keluarga merupakan fondasi paling utama dalam menjaga ketahanan bangsa. Oleh karena itu, keluarga harus dibentengi secara kokoh dari berbagai tantangan sosial kontemporer, termasuk fenomena fatherless atau hilangnya peran serta sosok ayah dalam pengasuhan anak.
Pernyataan tersebut dikemukakan usai menghadiri agenda nonton bareng film pendek berjudul “Memutar Waktu” yang diinisiasi oleh Bipeka DPP PKS dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta, Sabtu (4/7).
Dalam momentum yang sama, Presiden PKS, Almuzzammil Yusuf, mengaku sangat tersentuh oleh pesan mendalam yang tersirat di dalam tayangan film tersebut.
“Film ini sangat menyentuh dan membuat mata berkaca-kaca. Keluarga adalah tempat kembali, tempat pulang anak-anak ke ayah ibunya. Namun, fenomena anak kehilangan sosok ayah yang sibuk di luar kini menjadi perhatian kita bersama, dan realitanya hal ini terjadi di kalangan ikhwan sekalipun,” ungkapnya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil diskusinya dengan psikolog kawakan M. Iqbal, setiap keluarga dipastikan memiliki dinamika konflik masing-masing. Oleh sebab itu, berbagai persoalan rumah tangga sudah sepatutnya dihadapi dengan komunikasi terbuka dan diselesaikan secara bijak tanpa mengorbankan mental anak.
Sebagai bentuk komitmen nyata di lapangan, PKS melalui jejaring Bipeka terus mengembangkan program Rumah Keluarga Indonesia (RKI) di berbagai wilayah. Program ini difungsikan untuk memberikan pendampingan, konseling, serta solusi bagi keluarga yang sedang didera badai persoalan rumah tangga.
Di tingkat legislatif, Fraksi PKS di DPR RI juga konsisten mengawal dan mendorong lahirnya regulasi yang memberikan proteksi hukum lebih kuat terhadap eksistensi institusi keluarga. Almuzzammil pun mengajak setiap keluarga muslim untuk mempertebal ketakwaan sebagai fondasi utama dalam menghadapi setiap ujian kehidupan.
Lebih lanjut, Presiden PKS ini menginstruksikan seluruh kader partai agar memposisikan diri sebagai pelopor kebaikan di tengah lapisan masyarakat, tanpa memandang sekat agama, suku, maupun latar belakang kelompok.
Ia mencontohkan keberhasilan kerja sama politik yang cair di Pulau Tanimbar, sebuah wilayah yang mayoritas penduduknya beragama nonmuslim. Di daerah tersebut, PKS terbukti mampu berkolaborasi erat dengan berbagai elemen lokal, bahkan berhasil mendudukkan anggota legislatif nonmuslim yang ikut berjuang di bawah panji partai karena melihat komitmen kuat PKS terhadap nilai-nilai keadilan dan pelayanan publik.
Menurutnya, model gerakan inklusif tersebut merupakan pengejawantahan dari semangat Islam sebagai Rahmatan lil ’Alamin—sebuah ajaran yang membawa maslahat dan rahmat bagi seluruh alam.
Maka dari itu, kepedulian kader PKS tidak boleh dibatasi hanya kepada sesama manusia, melainkan wajib mencakup kelestarian lingkungan hidup dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Ia optimistis, penguatan internal keluarga yang disinergikan dengan semangat kebangsaan yang inklusif akan menjadi modal krusial dalam membangun masa depan bangsa yang tangguh.
sumber : PKS















