Tanjung Balai Karimun, PR Politik – Di tengah tingginya aktivitas galangan kapal di Tanjung Balai Karimun, prosesi pemotongan baja pertama (first steel cutting) resmi digelar. Agenda ini menjadi penanda dimulainya pembangunan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari, sebuah fasilitas kunci dalam North Hub Development Project. Proyek gas masif bernilai total USD 11,8 miliar (setara Rp192 triliun) ini ditargetkan mampu memproduksi 1.000 MMSCFD gas dan 80.000 BCPD kondensat pada kuartal IV tahun 2028, sekaligus membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa output produksi dari North Hub diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama dalam menopang pencapaian target lifitng minyak dan gas bumi nasional pada akhir dekade ini.
“Kita berharap proyek ini tidak hanya membantu, tetapi menjadi mesin penggerak utama dalam mencapai target produksi nasional di tahun 2030 yang telah ditetapkan Pemerintah, yaitu 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari,” katanya di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7).
Secara teknis, North Hub Development Project mengintegrasikan pengembangan dua lapangan gas raksasa, yakni Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem yang terletak di Cekungan Kutai, lepas pantai lepas pantai Kalimantan Timur. Proyek hulu migas laut dalam (ultra-deepwater) ini menyerap total nilai investasi korporasi hingga USD 11,8 miliar.
Dari keseluruhan modal tersebut, sekitar USD 2,9 miliar dialokasikan secara khusus untuk mendanai pembangunan FPSO Bahtera Haluan Lestari. Konstruksi lambung dan fasilitas atas kapal (topside) inilah yang kini pengerjaan fabrikasinya resmi dimulai di galangan kapal Kepulauan Riau.
Ia menilai, besarnya nilai investasi asing ini membuktikan bahwa sektor hulu migas Indonesia masih mengantongi daya pikat yang tinggi di mata investor global. Di sisi lain, pelibatan industri manufaktur domestik mencerminkan bahwa kapasitas galangan kapal nasional telah siap mengeksekusi proyek infrastruktur energi berskala megah dan padat teknologi.
“North Hub Development Project Selat Makassar merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) hulu migas yang pengembangannya tidak hanya berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas industri fabrikasi lepas pantai di dalam negeri. Pengembangan proyek ini juga membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia,” jelas Kepala SKK Migas secara terperinci.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Eni North Ganal Ltd, Mirko Araldi, menegaskan komitmen penuh korporasi selaku operator untuk memenuhi target operasional komersial perdana (onstream) pada tahun 2028 mendatang. Menurutnya, keberhasilan proyek merambah fase konstruksi fisik merupakan buah dari sinergi kokoh lintas sektor demi menyuplai energi yang andal bagi Indonesia.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bakal terus mengawal dan mendorong akselerasi pengembangan lapangan-lapangan migas strategis di tanah air.
Langkah ini dirasa mendesak mengingat komoditas gas bumi memegang peranan krusial sebagai energi transisi menuju net zero emission. Oleh sebab itu, ketepatan jadwal pembangunan proyek North Hub di Selat Makassar ini akan menjadi penentu krusial bagi ketahanan pasokan energi nasional di masa depan.
sumber : ESDM RI















