Bogor, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mengakselerasi penguatan kapasitas pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) alas kaki guna menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), pemerintah memberikan perhatian khusus pada sentra-sentra produksi yang sedang mengalami tantangan struktural dan perubahan perilaku pasar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti bahwa sentra IKM di tanah air masih bergelut dengan masalah klasik yang menghambat kemajuan mereka.
“Tantangan yang sering dihadapi sentra IKM antara lain keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta kurangnya inovasi produk. Di sisi lain, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor,” jelas Menperin di Jakarta, Senin (5/1).
Meski menghadapi kendala, industri alas kaki nasional menunjukkan performa yang menjanjikan. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan sektor ini mencapai 8,31 persen pada triwulan II-2025. Di kancah internasional, Indonesia kini kokoh berada di peringkat keenam sebagai eksportir alas kaki dunia dengan tren pertumbuhan ekspor mencapai 11,89 persen.
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menekankan bahwa salah satu kunci keberlanjutan sektor ini adalah keterlibatan generasi muda. Hal ini berkaca pada kondisi sentra IKM Ciomas, Bogor, di mana mayoritas perajin masih didominasi oleh generasi senior.
“Sebagian besar perajin di sentra IKM alas kaki Ciomas merupakan generasi senior yang belum sepenuhnya memiliki pengetahuan dan keterampilan baru. Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi,” ungkap Reni.
Menanggapi kebutuhan tersebut, Kemenperin berkolaborasi dengan Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) dan Universitas Prasetiya Mulya menggelar rangkaian pembinaan intensif bagi para perajin Ciomas. Program ini mencakup strategi pemasaran di lokapasar, teknik fotografi produk, hingga bimbingan teknis pembuatan pola desain sepatu terkini.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan, merinci bahwa pembinaan ini bertujuan agar perajin mampu mengelola usaha secara lebih efisien.
“Pembinaan ini bertujuan agar perajin semakin familiar dengan pemasaran digital, memiliki pemahaman mengenai desain dan pola alas kaki terkini untuk mendorong inovasi produk, serta mampu mengelola usaha secara lebih efisien melalui pendampingan mentor,” ujar Budi.
Pemerintah juga menyediakan berbagai skema dukungan lanjutan yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku IKM, antara lain:
-
Pembiayaan: Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Industri Padat Karya (KIPK).
-
Teknologi: Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan untuk peremajaan alat produksi.
-
Konsultasi: Layanan teknis mendalam bersama tenaga ahli dari BPIPI.
Melalui sinergi ini, diharapkan produk alas kaki dari sentra Ciomas tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menembus standar kualitas pasar global yang semakin kompetitif.
sumber : Kemenperin RI















