Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata, menyatakan dukungannya terhadap upaya pemerintah dalam menyehatkan ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Meski demikian, ia menegaskan bahwa langkah penyehatan tersebut tidak boleh sebatas berfokus pada pemangkasan atau pengurangan kuantitas entitas perusahaan negara.
Menurutnya, pilar utama dari restrukturisasi adalah menjamin entitas BUMN yang tersisa benar-benar beroperasi secara sehat, mandiri, serta memberikan kontribusi nyata bagi penerimaan negara dan kesejahteraan masyarakat.
“Danantara harus dengan cepat menyelesaikan evaluasinya dan menyampaikannya secara terbuka terkait kinerja, aset, utang, dan kontribusi masing-masing BUMN, sehingga tidak ada perusahaan negara yang jadi beban,” katanya kepada wartawan, Selasa (11/8).
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Barat X ini memberikan sorotan dan pesan khusus kepada BUMN di sektor konstruksi atau BUMN Karya. Ia mendesak agar langkah konsolidasi dan restrukturisasi di sektor infrastruktur ini dieksekusi jauh lebih serius dan terukur.
“BUMN karya perlu diarahkan pada proyek yang produktif dan memiliki kepastian pembiayaan, memperkuat tata kelola, mengendalikan utang, serta menghindari praktik mengambil proyek tanpa perhitungan kemampuan keuangan,” ucapnya tegas.
Ia mengingatkan agar seluruh proses pembenahan struktur perusahaan milik negara dilaksanakan secara transparan, akuntabel, serta mengedepankan efisiensi yang berorientasi pada kepentingan publik. Ia mewanti-wanti agar perampingan ini tidak hanya menjadi retorika administrasi semata.
“Jangan sampai restrukturisasi hanya menyelesaikan persoalan di atas kertas, tetapi tidak menyentuh akar masalahnya,” pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dilaporkan telah menutup sebanyak 274 anak dan cucu usaha BUMN hingga akhir Juli 2026. Kebijakan pemangkasan massal tersebut merupakan bagian dari program streamlining struktur perusahaan milik negara.
“Streamlining yang kita sudah lakukan kurang lebih sudah 274 perusahaan,” ungkap CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, kepada awak media di Jakarta, Kamis (6/8).
sumber : Kedai Pena















