Manfaatkan Kayu Hanyutan, Kemenhut Bangun 18 Huntara untuk Pengungsi Banjir di Aceh dan Sumut

Aceh Utara, PR Politik – Memasuki hari ke-44 penanganan pascabencana hidrometeorologi, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengakselerasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Inovasi pemulihan ini dilakukan dengan memanfaatkan material kayu hanyutan sisa banjir bandang yang telah dibersihkan dan diolah kembali.

Hingga 13 Januari 2026, sebanyak 18 unit huntara telah berhasil didirikan sebagai tempat berlindung warga yang kehilangan tempat tinggal.

“Hingga saat ini sudah 18 unit huntara yang dibangun, 15 unit diantaranya sedang berproses, sedangkan 3 unit lainnya sudah dihuni oleh warga Desa Gedumbak,” terang Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, dalam laporan resminya.

Sebanyak 72 personel Kemenhut diterjunkan di Kecamatan Langkahan untuk melakukan aksi bersih fasilitas umum. Dengan bantuan 40 unit alat berat, tim di lapangan fokus memilah kayu sisa bencana. Hingga saat ini, volume kayu yang terkumpul telah mencapai 2.112,11 m³ atau sekitar 1.173 batang.

Selain pembangunan huntara, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni, BPKH, dan Gakkum juga telah berhasil membersihkan Masjid Tuha Buket Linteung serta berbagai fasilitas pendidikan di Aceh Tamiang agar dapat kembali difungsikan oleh masyarakat.

Di wilayah Sumatera Utara, penanganan difokuskan pada Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan juga dibarengi dengan normalisasi aliran sungai guna mencegah bencana susulan.

“Kemenhut mengerahkan personel bersama 5 unit alat berat untuk melaksanakan pembersihan sampah kayu, pembuatan galangan untuk pemanfaatan kayu dan pembuatan tanggul dengan material sisa kayu serta pemilahan kayu untuk pengolahan kayu hanyutan. Sementara kegiatan pembukaan dan persiapan lahan untuk hunian tetap di Desa Aek Pining Batang Toru dan hunian sementara di Desa Batu Hula sudah 100% pengerjaan,” ungkapnya.

Baca Juga:  Tingkatkan Kemitraan Strategis, Menhan Sjafrie dan Dubes Prancis Bahas Percepatan MLSA dan Misi Perdamaian

Hingga saat ini, progres normalisasi Sungai Garoga telah mencapai 2,189 kilometer atau sekitar 41,3% dari target total sepanjang 5,3 kilometer. Tim di lapangan kini mulai memfokuskan pengerjaan pada pengerukan sungai dan pematangan tanggul untuk memperkuat perlindungan bagi pemukiman warga di sekitar aliran sungai.

sumber : Kemenhut RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru