Jakarta, PR Politik – Founder Gerakan Pencegah Krisis Planet sekaligus Penggagas Survival Architecture Indonesia yang sempat viral sebagai Ketua RT 08/RW 04 Kelurahan Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, melayangkan draf seruan masif agar masyarakat mengonversi kepedulian lingkungan hidup menjadi pergerakan nyata. Langkah taktis tersebut didorong untuk segera diinisiasi dari ruang lingkup terkecil, yakni ekosistem rukun tetangga.
Pesan kebangsaan dan ekologi tersebut diledakkan Taufiq saat bertindak sebagai pembicara kunci dalam agenda Launching Gerakan Nasional Waste For Aid yang diorkestrasi oleh Bidang Energi, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim (BELHPI) PKS. Perhelatan hibrida tersebut digelar bertepatan dengan Hari Peringatan Lingkungan Hidup Sedunia di Aula Kantor DPTP PKS, Jakarta, Jumat (5/6).
Dalam draf paparannya, ia menggarisbawahi urgensi pemanfaatan teknologi digital dan sirkuit media sosial untuk mengamplifikasi draf praktik-praktik baik dalam menjaga kelestarian alam. Menurut analisisnya, merekam dan memublikasikan aktivitas pelestarian lingkungan ke ruang siber bukanlah representasi dari tindakan pamer, melainkan instrumen edukasi publik yang sangat strategis.
“Saya mau titip pesan, sekarang zamannya media digital. Niatkan apa yang kita lakukan terkait kebaikan lingkungan untuk mengajarkan dan menunjukkan bahwa kita telah berbuat. Niatkan bukan untuk ria atau pamer, tetapi tunjukkan kepada dunia bahwa kita berbuat baik untuk menjaga bumi,” urainya di hadapan fungsionaris parpol dan pegiat lingkungan.
Tokoh pelopor akar rumput ini membeberkan barisan inovasi siber dan lapangan yang sukses dieksekusi bersama warganya di kawasan padat penduduk Jakarta melalui draf konsep Survival Architecture Indonesia. Bermodalkan sistem tata kelola sampah mandiri, pengolahan pupuk organik (composting), hingga optimalisasi platform digital, mereka dilaporkan berhasil menyulap gang-gang sempit yang minim ruang terbuka hijau menjadi laboratorium hidup pengelolaan lingkungan berbasis komunitas masyarakat.
“Kami berkomitmen dari lorong sempit lahir solusi besar. Kalau satu RT bisa, Indonesia berarti bisa berubah,” tegas Ketua RT yang draf inovasinya tersebut berhasil menembus dan dikenal di kancah internasional.
| Variabel Inovasi Lokal | Rincian Aksi Konkret Survival Architecture |
| Manajemen Hulu | Pemilahan sampah anorganik bernilai ekonomi dan sampah organik |
| Teknologi Tapak | Aktivasi sistem composting guna mereduksi tumpukan limbah dapur |
| Akselerasi Siber | Optimalisasi media digital sebagai sarana edukasi publik non-partisan |
| Indikator Capaian | Transformasi lorong sempit menjadi laboratorium hidup tata kelola kota |
Ia melayangkan draf apresiasi tertulis atas diluncurkannya Gerakan Nasional Waste For Aid oleh PKS yang dinilai cerdas mempertemukan antara rantai kelola sampah dengan nilai ekonomi sirkular dan sedekah kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa tata kelola kebersihan tidak boleh diisolasi hanya pada penanganan sampah anorganik (plastik/kertas) semata, melainkan wajib menyentuh draf mitigasi sampah organik yang kerap menjadi biang kerok polusi udara dan lingkungan.
Menutup draf orasi ekologinya, ia menuntut seluruh peserta yang hadir di ruangan maupun siber untuk berani bertindak sebagai episentrum keteladanan dalam merawat bumi demi masa depan generasi nasional.
“Indonesia bisa menjadi besar bukan dari gedung tinggi, tetapi dari lingkungan yang dijaga. Kalau Indonesia masih punya harapan, berarti Indonesia hanya butuh keteladanan. Bapak dan Ibu jadilah orang yang memberikan keteladanan,” pungkasnya menyudahi draf rilis sosiopolitiknya.
sumber : PKS















