Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai NasDem, Rudi Hartono Bangun, mengingatkan agar program peremajaan gerbong kereta api secara massal yang akan dilakukan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tidak hanya berfokus pada penggantian sarana yang telah menua. Menurutnya, langkah tersebut harus menjadi momentum untuk menghadirkan transformasi pelayanan secara menyeluruh bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Rudi dalam rapat kerja bersama jajaran PT KAI dan PT Industri Kereta Api (INKA) di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (3/6/2026).
“Jika orientasinya untuk meningkatkan pelayanan kepada rakyat, tentu harus kita dukung. Karena yang merasakan manfaatnya adalah masyarakat luas selaku pengguna jasa,” ujar Rudi.
Rudi menegaskan bahwa tujuan utama dari program peremajaan armada kereta api harus berorientasi pada peningkatan keselamatan, kenyamanan, serta kualitas layanan yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat sebagai pengguna transportasi kereta api.
Menurutnya, pembaruan fisik gerbong hanya menjadi salah satu bagian dari tantangan besar yang saat ini dihadapi KAI. Seiring meningkatnya jumlah penumpang dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan dituntut untuk mampu menghadirkan layanan yang semakin berkualitas dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Pembaruan fisik gerbong hanyalah sebagian dari tantangan besar yang dihadapi KAI di tengah melonjaknya jumlah penumpang dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap legislator NasDem dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara III tersebut.
Ia menilai persaingan antar moda transportasi yang semakin ketat menuntut KAI untuk terus berinovasi dan tidak terjebak dalam pola operasional yang monoton. Inovasi, kata Rudi, menjadi kunci untuk menjaga daya saing perusahaan sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan nilai tambah yang jelas pada setiap kelas layanan, mulai dari kelas ekonomi hingga kelas eksekutif. Menurutnya, kualitas layanan yang diberikan harus kompetitif dan sejalan dengan kemampuan daya beli masyarakat.
Selain menyoroti aspek kenyamanan penumpang, Rudi juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi infrastruktur perkeretaapian. Ia menilai persoalan jalur rel dan jembatan tua yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia merupakan isu penting yang tidak boleh diabaikan.
Menurut Rudi, perhatian publik selama ini lebih banyak tertuju pada kondisi armada kereta, padahal keandalan infrastruktur jalur rel memiliki peran yang sama pentingnya dalam menjamin keselamatan perjalanan kereta api.
Ia pun mempertanyakan efektivitas sistem pengawasan dan pemeliharaan berkala terhadap jalur rel yang melintasi kawasan terpencil, area perkebunan, hingga kawasan hutan. Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan yang lebih tinggi karena keterbatasan pengawasan langsung di lapangan.
“Ancaman terhadap keselamatan perjalanan itu tidak hanya datang dari faktor teknis armada, tetapi juga potensi tindakan sabotase atau kerusakan rel yang tidak terdeteksi sejak awal,” pungkas Rudi.















