Tokyo, PR Politik – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sukses mencatatkan capaian ekonomi fantastis dalam rangkaian kunjungan kenegaraannya ke Tokyo, Jepang, pada 29–31 Maret 2026. Kunjungan strategis ini menghasilkan nilai bisnis mencapai 23,63 miliar dolar AS atau setara dengan Rp380 triliun, yang sekaligus menjadi kado istimewa menyambut tujuh dekade persahabatan kedua negara.
Mengawali agenda di Negeri Sakura, Presiden Prabowo melakukan kunjungan kehormatan kepada Kaisar Naruhito di Istana Kekaisaran Jepang, Senin (30/3). Dalam suasana hangat, Presiden juga bertemu dengan Putra Mahkota Fumihito sebelum menghadiri jamuan santap siang kenegaraan.
Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, di Istana Akasaka, Selasa (31/3/2026), kedua pemimpin sepakat memperdalam kemitraan strategis. Indonesia secara terbuka mengundang partisipasi Jepang dalam pengembangan mineral kritis serta program hilirisasi industri nasional.
Selain itu, kerja sama di sektor energi terbarukan dan energi nuklir menjadi poin krusial dalam pembahasan transisi energi. Presiden Prabowo juga menekankan penguatan inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC) dengan melibatkan perusahaan-perusahaan Jepang yang telah lama beroperasi di Indonesia.
“Selain diterima oleh Kaisar Naruhito dan bertemu PM Sanae Takaichi, Presiden juga ikut menyaksikan perjanjian kerja sama strategis antara pelaku usaha Indonesia dan Jepang dengan nilai total sebesar 23,63 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp380 triliun. Hal ini menjadi bukti nyata posisi strategis Indonesia di mata Jepang sekaligus menjadi kado jelang 70 tahun persahabatan dan kerja sama Indonesia Jepang,” ungkap Duta Besar RI untuk Jepang, Kartini Sjahrir.
Keberhasilan nilai investasi tersebut diperkuat dengan penandatanganan 10 Nota Kesepahaman (MoU) antara pelaku bisnis kedua negara dalam Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Imperial Hotel Tokyo. Tidak berhenti di situ, Presiden juga melakukan pertemuan eksklusif dengan 13 pimpinan korporasi raksasa Jepang untuk memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Pertemuan tersebut difokuskan pada:
-
Hilirisasi Industri: Mendorong pengolahan bahan mentah di dalam negeri.
-
Investasi Strategis: Memperkuat modal Jepang pada sektor manufaktur dan teknologi.
-
Pengembangan SDM: Sinergi pendidikan dan pelatihan teknis.
Sebagai penutup rangkaian kunjungan, Presiden Prabowo menyempatkan diri bertemu dengan diaspora Indonesia di Jepang. Suasana akrab terlihat saat Presiden menyapa para taruna Indonesia yang sedang menempuh studi militer di National Defense Academy (NDA) Japan.
Kunjungan ini tidak hanya mempertebal kerja sama ekonomi, tetapi juga memperkuat ikatan emosional dan pertahanan antara Indonesia dan Jepang sebagai dua kekuatan besar di kawasan Asia.
sumber : Kemlu RI















