Majalengka, PR Politik – Lebih dari seratus warga dari berbagai komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, pengurus RT/RW, hingga pengelola bank sampah di Majalengka berkumpul di Hotel Fitra. Mereka berbaur dalam sosialisasi aksi mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas yang digelar oleh Direktorat Mitigasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidunan (KLH) berkolaborasi dengan Anggota DPR RI Komisi XII Fraksi PKS Dapil Jabar 9, Ir. H. Ateng Sutisna, MBA. Kegiatan ini merupakan ajakan untuk menjadikan mitigasi sebagai kebiasaan baru yang menular dari rumah.
Mewakili Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Teguh Imansyah membuka pesan kunci acara dengan lugas, menekankan bahwa aksi mitigasi memerlukan komitmen kuat dari semua pihak. Teguh menyebut mengelola sampah mulai dari rumah sebagai kebiasaan sederhana yang segera harus dilakukan: memilah organik dan anorganik, mengurangi plastik sekali pakai, dan memastikan sampah bernilai kembali sebelum menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Nada serupa datang dari Ateng Sutisna. “Perubahan iklim adalah keniscayaan dan dampaknya sedang kita rasakan sekarang. Pemerintah tidak bisa menanganinya sendirian,” katanya.
Ateng menilai tata kelola persampahan masih menjadi pekerjaan rumah, namun ia optimistis Majalengka punya modal sosial dan jejaring komunitas yang kuat untuk menjadi percontohan. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Majalengka melalui Reza Febrian memperingatkan bahwa timbulan sampah di TPA terus bertambah dan harus segera ditanggulangi dengan pemilahan sejak dari sumber.
Di sesi berbagi praktik, LKM Damar menghadirkan cerita lapangan yang konkret. “Mengajak warga mengelola sampah tidak cukup hanya dengan aturan dan imbauan; harus dengan contoh praktik langsung,” ucap Iing Hasan Ismail.
Iing menyebut sampah organik sebagai “emas hitam” yang bernilai bila dikelola benar. Melalui budidaya maggot untuk mengolah sampah dapur, kelompoknya tidak hanya menekan timbulan organik tetapi juga merasakan manfaat ekonomi yang nyata.
Kepedulian mengelola sampah dari rumah, tegas Teguh, akan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sosialisasi ini merangkai kolaborasi antara pusat, daerah, legislatif, dan komunitas untuk memindahkan praktik baik, dengan harapan Majalengka menjadi titik awal gerakan yang menular: pemilahan dari sumber, penguatan bank sampah, dan pengolahan organik skala rumah tangga yang terintegrasi.
Inti pesannya jelas: perubahan iklim adalah isu besar, tetapi jawabannya berawal dari tindakan kecil yang konsisten.
sumber : Kemenlh RI















