Jakarta, PR Politik – Literasi keuangan digital menjadi faktor penting untuk mempercepat kesetaraan gender di Indonesia, menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. Dalam acara Financial Inclusion Talk, Arifah Fauzi menekankan bahwa platform digital membuka peluang besar bagi perempuan pelaku usaha untuk memperluas pasar, mengelola keuangan, dan mendapatkan modal.
“Perempuan harus menjadi subjek aktif dalam ekosistem keuangan digital, bukan sekadar penerima manfaat,” ujar Arifah.
Ia juga menyoroti tantangan utama, yaitu kesenjangan digital antara laki-laki dan perempuan serta stereotip gender. Untuk itu, ia menyerukan pendidikan dan pelatihan literasi keuangan digital secara masif dan berkelanjutan agar perempuan dapat menjadi agen perubahan.
Senada dengan Menteri PPPA, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa meskipun akses layanan keuangan sudah tinggi, tingkat pemahaman masyarakat masih rendah. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan masih sekitar 66%.
“Kita harus menciptakan talenta digital yang inklusif, tidak hanya melek teknologi tetapi juga memberi dampak nyata, terutama bagi UMKM dan perempuan pelaku usaha. Literasi keuangan harus aktif, interpersonal, relevan, dan humanis,” ujar Destry.
Sebagai tindak lanjut, Bank Indonesia telah bekerja sama dengan Kemen PPPA untuk program pemberdayaan di Kalimantan Utara dan Rembang, serta menyusun kerangka kompetensi literasi keuangan sebagai panduan.
sumber : KemenPPPA RI















