Jakarta, PR Politik (14/12) – Pemerintah Republik Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama setelah penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad oleh kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) pada Minggu (10/12/2024). Desakan ini disampaikan oleh Henwira Halim, Ketua Hubungan Luar Negeri DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, dalam diskusi Gelora Talks yang berlangsung pada Rabu (11/12/2024).
Dalam diskusi bertema “Tumbangnya Bashar al-Assad & Eskalasi Baru di Konflik di Timur Tengah,” Henwira menekankan pentingnya PBB untuk lebih aktif dalam menstabilkan kawasan Timur Tengah, bukan hanya di Suriah, mengingat konflik Palestina-Israel yang belum mereda. “Kita berharap mulai sekarang PBB benar-benar lebih aktif dalam menstabilkan kawasan Timur Tengah, agar tidak ada lagi perang berkelanjutan yang merusak keamanan dan menimbulkan banyak korban jiwa,” ujarnya.
Henwira juga berharap transisi pemerintahan di Suriah dapat berjalan mulus dan mendapatkan legitimasi dari dunia internasional. Ia menekankan bahwa Indonesia dapat berperan dengan mengirimkan pasukan penjaga perdamaian, seperti yang dilakukan di Lebanon, jika diperlukan oleh PBB. “Di Suriah banyak negara berkepentingan, ada pengaruh Amerika, Rusia, Iran, dan Turki. Semua kepentingan ini harus didengar, maka disinilah perlunya PBB sebagai kekuatan multilateral untuk mengakui atau tidak pemerintahan baru, serta menjaga kawasan tetap stabil,” tambahnya.
Duta Besar Suriah untuk Indonesia, Abdul Monem Annan, yang juga hadir sebagai narasumber, menjelaskan bahwa penggulingan Bashar al-Assad terjadi karena keinginan masyarakat Suriah sendiri, tanpa adanya intervensi asing. “Masyarakat Suriah sudah lama ingin keluar dari pemerintahan Bashar al-Assad yang dikenal kejam dan menindas. Salah satu kekejaman terlihat di penjara Sednaya,” ungkap Annan.
Annan menegaskan bahwa kejahatan perang yang dilakukan oleh Bashar al-Assad adalah kejahatan yang sangat tidak bisa dibayangkan. Ia menambahkan bahwa tumbangnya Bashar al-Assad adalah murni keinginan masyarakat dan oposisi di Suriah, serta tidak terkait dengan konflik di kawasan Timur Tengah yang dimulai dengan perang antara Hamas dan Israel pasca serangan pada 7 Oktober 2023.
Dubes Suriah ini juga menilai bahwa penggulingan Bashar al-Assad terjadi karena perhatian utama Rusia dan Iran terfokus pada masalah lain, seperti perang di Ukraina dan gencatan senjata antara Hizbullah dan Israel. “Rusia harus fokus pada perang Ukraina sehingga kekuatannya berkurang di Suriah. Begitu juga Iran yang sibuk dengan gencatan senjata,” jelasnya.
Annan memastikan bahwa tidak ada peran Amerika Serikat (AS) dan Israel dalam mendukung pemberontak HTS dalam upaya penggulingan Bashar al-Assad, meskipun saat ini AS terlihat lebih bersahabat dengan pemimpin HTS, Abu Mohammed al-Golani. “AS dan Israel menunjukkan sikap lebih bersahabat setelah penggulingan Assad karena Golani telah meninggalkan ideologi Al Qaeda,” katanya.
Sementara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Suriah, Wajid Fauzi, menilai situasi di Suriah sebagai sebuah pergantian kekuasaan yang biasa dan berharap hubungan persahabatan antara kedua negara tetap terjaga. “Apa yang sedang kita saksikan ini sesungguhnya adalah sebuah pergantian kekuasaan dari sebuah negara. Kita sebagai Bangsa Indonesia melihat ini sebagai satu pergantian kekuasaan di sebuah negara,” ujarnya.
Dubes Wajid menegaskan bahwa Indonesia akan terus mengikuti situasi di Suriah dan mendukung proses transisi yang inklusif, demokratik, dan damai. Ia juga menyoroti sejarah persahabatan Indonesia dan Suriah yang telah terjalin sejak awal kemerdekaan Indonesia, di mana Suriah mendukung kemerdekaan Indonesia melalui wakilnya di PBB.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Wajid juga menyampaikan bahwa situasi jalanan di Kota Damaskus saat ini sudah normal, dengan masyarakat bebas beraktivitas. “Saya berkeliling kota, melihat jalanan di Kota Damaskus. Saya bisa katakan bahwa 98 persen kehidupan masyarakat sudah normal. Toko-toko sudah buka, transportasi umum sudah mulai berjalan, dan masyarakat sudah keluar bebas,” katanya.
Namun, jurnalis Krisis Suriah, Pizaro Gozali Idrus, mengingatkan bahwa meskipun situasi di Damaskus terlihat tenang, pertempuran antar faksi di wilayah utara Suriah masih berlangsung. “Di wilayah utara masih terjadi pertempuran antar faksi-faksi. Faksi di Suriah utara ini dibackup penuh Amerika dan Israel. Eskalasi di wilayah tersebut masih tinggi,” ujarnya.
Pizaro menegaskan pentingnya mengendalikan situasi di utara Suriah untuk mencegah dampak negatif terhadap keamanan di wilayah lain, termasuk Damaskus. “Jika situasi di utara ini tidak terkendalikan, ini bisa berdampak pada wilayah-wilayah lain,” tegasnya.
Dengan demikian, peran PBB dan komunitas internasional sangat penting dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah pasca penggulingan Bashar al-Assad, untuk mencegah konflik yang lebih luas dan memastikan keamanan serta kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.
Sumber: partaigelora.id















