Hadapi Era TUNA dan Perkuat UU Konservasi Baru, Kemenhut Resmi Tutup Pelatihan Kepemimpinan Teknis SECESM 2026

Bogor, PR Politik – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia (SDM) di bidang konservasi sebagai langkah strategis menghadapi tantangan pengelolaan keanekaragaman hayati yang kian kompleks. Komitmen tersebut diwujudkan melalui perhelatan program School of Environmental Conservation and Environment Services Management (SECESM) Tahun 2026 yang secara resmi telah ditutup.

Program pelatihan SECESM 2026 ini diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) SDM, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program serta Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan, Indra Eksploitasia, menegaskan bahwa tantangan tata kelola konservasi saat ini berada pada tingkatan yang semakin rumit. Indonesia tengah berada di era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, Ambiguity) yang ditandai oleh ancaman perubahan iklim ekstrem, karhutla, risiko kepunahan spesies, dinamika ekonomi hijau, hingga munculnya isu-isu baru seperti nilai ekonomi karbon, imbal jasa lingkungan, serta kejahatan satwa siber (cyber-wildlife crime).

“Untuk menjawab tantangan era TUNA tersebut, Indonesia kini memiliki landasan hukum yang semakin kuat melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” ujarnya.

Dalam penutupan program tersebut, Kepala BP2SDM menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta yang telah membuktikan komitmen dan konsistensinya selama menempuh proses pembelajaran.

“Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan, tetapi mampu melahirkan rencana aksi dan kontribusi nyata bagi penguatan tata kelola konservasi. Semoga kerja keras kita membawa hasil yang maksimal dan memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian hutan Indonesia,” tutupnya.

Baca Juga:  Batik City Run 2025 Kampanyekan Batik sebagai Gaya Hidup Sehat dan Modern

Program SECESM 2026 didesain secara khusus bukan sebatas pelatihan teknis biasa, melainkan sebagai kawah candradimuka kepemimpinan teknis konservasi. Peserta dibekali pemahaman teoritis, pengalaman terapan, daya analisis tajam, hingga kemampuan merumuskan langkah taktis di lapangan.

Rangkaian kegiatan telah digulirkan sejak April 2026 melalui tahapan terintegrasi, mulai dari Massive Open Online Course (MOOC), sesi pembelajaran klasikal, praktik lapangan, hingga seminar rencana aksi.

Dengan berpisahnya para peserta dari program SECESM 2026, jajaran alumnus pelatihan ini diharapkan mampu menularkan serta menerapkan seluruh pengetahuan dan pengalaman yang didapat untuk memperkuat unit kerja masing-masing. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar kolektif mewujudkan pengelolaan hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia yang lebih efektif, tangguh, serta berkelanjutan.

sumber : Kemenhut

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini