Jakarta, PR Politik – Industri fesyen dan kriya nasional dinilai mengantongi potensi raksasa untuk terus dikembangkan sebagai sektor manufaktur bernilai tambah tinggi sekaligus etalase pelestarian kearifan lokal. Kreativitas para pelaku industri kecil menengah (IKM) dalam meramu wastra, desain kontemporer, bahan baku lokal, serta identitas kebudayaan menjadi modal utama untuk mengukuhkan posisi Indonesia di pasar domestik maupun mancanegara.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) aktif memperluas kapasitas IKM lewat fasilitasi sarana promosi, pembukaan akses pasar digital-fisik, serta perintisan jejaring kemitraan bisnis. Langkah taktis ini dirancang agar semakin banyak produk kriya dan fesyen karya anak bangsa yang mampu memikat konsumen global.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan bahwa kekayaan ragam budaya serta kelimpahan sumber daya lokal merupakan fondasi utama pengembangan industri kreatif Indonesia yang perlu terus ditransformasikan menjadi produk inovatif.
“Industri fesyen dan kriya memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keragaman sumber daya lokal Indonesia. Pemerintah terus memacu potensi tersebut agar dapat diterjemahkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu diterima pasar nasional maupun internasional,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (13/8).
Ia menambahkan, partisipasi aktif IKM pada ajang eksibisi berskala nasional tidak sekadar berfungsi sebagai wahana jualan, melainkan juga wahana edukasi pasar dan pembukaan jalur kerja sama baru.
“Keikutsertaan IKM fesyen dan kriya dalam pameran menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, memperluas jejaring usaha, sekaligus membuka peluang kemitraan. Melalui interaksi langsung dengan ekosistem industri dan konsumen, IKM juga dapat memperoleh wawasan mengenai kebutuhan dan tren pasar sebagai bahan untuk mengembangkan usahanya ke depan,” ungkapnya.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) menggandeng Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam perhelatan BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) pada 29 Juli–2 Agustus 2026. Memasuki gelaran ke-14, IFW 2026 mengusung tema “Wastra Ulos Simetria” guna mengangkat keagungan kain ulos khas Sumatera Utara ke dalam panggung fesyen modern.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, membeberkan bahwa pameran lima hari tersebut berhasil menghadirkan lebih dari 200 desainer, 500 eksibitor jenama lokal, serta 4.000 pekerja kreatif. Event akbar ini menyedot lebih dari 35.000 pengunjung dengan raihan total nilai transaksi melampaui Rp10 miliar.
“Besarnya jumlah pengunjung dan nilai transaksi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme pasar sekaligus memperkuat peran sektor fesyen dan kriya dalam pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia,” katanya.
Dalam ajang IFW 2026, BPIFK secara khusus memfasilitasi 11 IKM binaan unggulan alumni program Creative Business Incubator (CBI), antara lain Pucok (Aceh), Koto Batu (Banten), Marline Indonesia, Arae, Winkle World, Delta (Jawa Barat), Cloth Inc (DKI Jakarta), Eboni Watch, Shalda (Jawa Tengah), Ulur Wiji (Jawa Timur), hingga Kominela (Bali).
Kepala BPIFK, Dickie Sulistya Apriliyanto, menyampaikan bahwa 11 IKM binaan tersebut sukses membukukan penjualan langsung lebih dari 460 produk dengan total transaksi menembus Rp100 juta, di samping menghasilkan sederet potensi kerja sama business-to-business (B2B).
“Selama lima hari pelaksanaan pameran, 11 IKM binaan BPIFK berhasil membukukan penjualan lebih dari 460 produk dengan total nilai transaksi melampaui Rp100 juta. Selain penjualan langsung, partisipasi tenant BPIFK juga menghasilkan sejumlah potensi kerja sama business-to-business atau B2B setelah pameran,” jelasnya.
Sejumlah kesepakatan B2B yang dijajaki di antaranya: Arae dengan calon distributor pasar luar negeri, Marline Indonesia bersama jajaran influencer dan produsen aksesori nasional, Shalda untuk pengadaan kain busana anak, Eboni Watch dengan outlet aksesori terkemuka, serta Pucok yang menjajaki kolaborasi motif Aceh sekaligus peluang pameran di Malaysia.
Ia menegaskan, BPIFK akan terus memperkuat fasilitasi agar produk karya IKM dalam negeri makin matang menembus rantai pasok global tanpa kehilangan identitas kebudayaan Nusantara.
“Kami akan terus memperkuat fasilitasi bagi IKM fesyen dan kriya agar semakin siap memanfaatkan peluang pasar. Diharapkan semakin banyak produk karya IKM Indonesia yang dikenal, digunakan, dan mampu memasuki pasar internasional dengan tetap membawa karakter serta kekayaan budaya Indonesia,” pungkasnya.
sumber : Kemenperin















