Jakarta, PR Politik – Pemerintah Qatar telah meningkatkan komitmennya untuk mendukung pembangunan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Indonesia, dari semula 1 juta unit menjadi total 6 juta unit. Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) untuk sektor perumahan ini dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (8/1/2025), yang disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Fahri Hamzah, mengungkapkan bahwa pemerintah Qatar berencana menambah 5 juta unit rumah lagi, yang sepenuhnya berasal dari pemerintah Qatar. Komitmen ini merupakan kelanjutan dari perjanjian sebelumnya antara kedua negara.
“Qatar kemarin kita sudah tanda tangan 1 juta unit. Hari berikutnya, saya bertemu dengan pejabat resmi dari Qatar yang menyebutkan komitmen tambahan 5 juta unit. Jadi, total rumah yang akan mereka kerjakan adalah 6 juta rumah,” ujar Fahri Hamzah dalam keterangannya, Rabu (15/1/2025).
Fahri menjelaskan bahwa tambahan 5 juta unit rumah ini berasal dari pemerintah Qatar, sementara perjanjian investasi 1 juta rumah di Istana Merdeka berasal dari semi-pemerintah. “Syeikh itu keluarga kerajaan tetapi dia juga punya perusahaan,” jelasnya.
Proyek ini diharapkan tidak hanya mengatasi defisit perumahan di Indonesia, tetapi juga memberikan peluang kerja yang besar bagi masyarakat lokal. “Jadi tambahan 5 juta unit rumah itu berasal dari pemerintah Qatar,” tambah Fahri.
Baca Juga: Rachmat Gobel: Jepang Tawarkan Konsep Pembangunan Berkelanjutan untuk Tiga Juta Rumah di Indonesia
Meskipun rencana pembangunan total 6 juta rumah di Indonesia masih dalam tahap pembahasan, Fahri menyebutkan bahwa skema dan rincian proyek akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan bilateral yang dijadwalkan berlangsung di Doha pada akhir bulan ini. “Skema pembangunannya akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan di Doha,” jelasnya.
Sebelumnya, Fahri juga menyatakan bahwa salah satu fokus kerja sama investasi antara Kementerian PKP RI dan Qatar adalah pembangunan rumah susun di wilayah perkotaan. “Problem perumahan di Indonesia, terutama di desa-desa, adalah perbaikan rumah. Namun, fokus investasi kali ini adalah di kota, dan problem di perkotaan adalah rumah susun,” kata Fahri.
Ia menambahkan bahwa banyak daerah kumuh yang perlu dibenahi, dan ini akan menjadi salah satu orientasi pertama, sehingga 98 kota di Indonesia akan dibersihkan. Area-area kumuh seperti di pinggir sungai, kali, dan laut akan diperbaiki secara bertahap melalui pembangunan rumah susun.
Pemerintah Qatar, bersama grup yang terafiliasi dengan keluarga kerajaan, telah berkomitmen untuk membangun sekitar satu juta unit rumah susun di seluruh Indonesia. “Ini rusun, di seluruh Indonesia. Di mana pun ada kebutuhan untuk membangun, terutama di kawasan yang perlu direnovasi, di situ kita masuk,” jelas Fahri.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, pemerintah akan membentuk perusahaan teknis yang bertugas merancang desain, menghitung biaya, dan mengatur detail lainnya. Fahri menekankan pentingnya percepatan dalam pelaksanaan proyek ini. “Realisasinya kapan? Lebih cepat, lebih baik. Karena kita kerja setiap hari untuk memastikan investasinya lebih cepat,” pungkasnya.
Pembangunan perumahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi salah satu bidang yang masuk dalam daftar 17 program prioritas untuk dikembangkan. Kepala Negara menargetkan bahwa setiap tahunnya pemerintah akan membangun tiga juta rumah untuk masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, agar dapat memiliki hunian yang layak.















