Jakarta, PR Politik – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengakhiri masa siaga Posko Nasional Sektor ESDM periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 pada Senin (5/1). Dalam seremoni penutupan di Gedung BPH Migas, pemerintah melaporkan bahwa seluruh pasokan energi tetap stabil dan aman meski Indonesia menghadapi sejumlah tantangan bencana geologi yang dinamis.
Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, Yudhiawan, yang hadir mewakili Menteri ESDM, memberikan apresiasi atas kesigapan tim dalam mengawal ketersediaan energi nasional di tengah berbagai fenomena alam.
“Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi; semuanya termitigasi dengan baik dan berjalan lancar berkat kerja keras kita semua,” tegas Yudhiawan.
Selama masa siaga yang dimulai sejak pertengahan Desember 2025, tim posko menaruh perhatian besar pada aktivitas vulkanik. Badan Geologi melaporkan adanya eskalasi status pada Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur menjadi Awas (Level IV) per 1 Januari 2026. Selain itu, status Siaga (Level III) tetap disematkan pada Gunung Merapi dan Gunung Semeru, sementara 24 gunung api lainnya berada di Level II atau Waspada.
Keberhasilan mitigasi ini memastikan fasilitas energi vital yang berada di radius aman tetap beroperasi tanpa gangguan signifikan.
Ketua Posko Nasional Sektor ESDM, Erika Retnowati, memaparkan bahwa terdapat 82 insiden gerakan tanah di 17 provinsi yang terjadi selama libur panjang. Meski mengancam jalur distribusi, pemetaan daerah rawan yang dilakukan lebih awal terbukti efektif.
“Alhamdulillah seluruh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan gerakan tanah tidak berdampak terhadap pasokan maupun kelancaran penyaluran energi baik BBM, Gas, maupun listrik,” ujar Erika.
Terkait aktivitas seismik, tercatat 10 kejadian gempa bumi dengan kekuatan di atas magnitudo 5.0. Salah satu insiden yang menonjol adalah gempa di Agam, Sumatera Barat, pada 28 Desember 2025 yang sempat merusak pemukiman namun tidak sampai memicu tsunami maupun kerusakan pada infrastruktur energi utama.
Yudhiawan menekankan bahwa kunci sukses pengamanan energi tahun ini adalah kolaborasi hitungan detik antara Badan Geologi, BMKG, BNPB, serta aparat TNI dan Polri. Ia menganalogikan kerja sama ini sebagai sapu lidi yang sulit dipatahkan jika bersatu.
“Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi sudah dimitigasi, yaitu baik itu gunung api, gerakan tanah, dan kemudian gempa bumi, termitigasi dengan baik dan semuanya berjalan berkat kerja keras kita semua,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya posko ini, Kementerian ESDM berkomitmen untuk terus memperkuat standar mitigasi guna menjamin kenyamanan publik dan kelancaran ekonomi di masa mendatang.
sumber : ESDM RI















