Ekonomi Kuartal I Tumbuh 5,61%, Wamenkeu Juda Agung Beberkan Tiga Strategi Fiskal Penjinak Krisis Global

Bogor, PR Politik – Di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh perang tarif serta eskalasi ketegangan geopolitik, perekonomian Indonesia terbukti memiliki daya tahan (resilience) yang kokoh untuk meredam risiko rambatan global. Ketangguhan domestik ini disokong secara kuat oleh bauran energi nasional yang berjalan optimal serta eksekusi draf strategi fiskal yang pruden (hati-hati).

Hal tersebut dipaparkan secara komprehensif oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, saat menyampaikan Kuliah Umum di hadapan sivitas akademika Institut Pertanian Bogor (IPB), Jumat (29/5).

“Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global,” ungkap Wamenkeu Juda Agung membedah keunggulan komparatif sektor energi nasional.

Dari sisi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ia membeberkan tiga bauran strategi fiskal yang diterapkan secara konsisten demi menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, dengan tetap mempertahankan disiplin fiskal serta stabilitas makroekonomi.

Strategi pertama difokuskan pada pengendalian belanja negara melalui metode refocussing. Pemerintah berkomitmen menjaga daya beli masyarakat dan menekan laju inflasi dengan menahan harga BBM bersubsidi lewat kenaikan alokasi pengeluaran subsidi.

Selain itu, skema efisiensi juga menyasar program prioritas, di mana operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diputuskan untuk dikurangi atau ditiadakan pada hari Sabtu. Di saat yang sama, belanja negara dialokasikan pada sektor produktif untuk memacu produksi dan menciptakan lapangan kerja baru.

“Itu dari sisi pengeluaran yang kita bisa melakukan pengendalian. Istilahnya refocusing. Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan,” jelasnya.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Subianto Tekankan Pentingnya Kolaborasi dan Blue Economy di KTT D-8 Summit

Strategi kedua ditempuh melalui optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah bergerak cepat memaksimalkan momentum kenaikan harga komoditas ekspor di pasar internasional. Langkah ini diperkuat secara struktural di dalam negeri melalui modernisasi pemungutan pajak lewat implementasi sistem Coretax terintegrasi.

Melengkapi bauran kebijakan, strategi ketiga bertumpu pada tata kelola pembiayaan atau penarikan utang negara. Guna meminimalkan ketergantungan dan risiko fluktuasi terhadap dolar AS (USD), kebijakan pembiayaan dialihkan secara agresif pada penerbitan surat utang berbasis mata uang non-USD yang menawarkan tingkat suku bunga kompetitif.

Beberapa instrumen surat utang asing yang dibidik pemerintah di antaranya meliputi Samurai bonds berdenominasi Yen Jepang (JPY), Dim Sum bonds berdenominasi Renminbi Tiongkok (CNY), serta Kangaroo bonds yang menggunakan mata uang Dolar Australia (AUD).

Ia menegaskan, efektivitas dari implementasi draf strategi fiskal ini langsung terkonfirmasi pada performa impresif ekonomi domestik sepanjang kuartal pertama tahun anggaran 2026. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sukses tumbuh kuat di angka 5,61%.

Rapor hijau ini disempurnakan oleh laju inflasi yang berhasil dijaga pada level rendah 2,42%, defisit fiskal yang sangat aman di angka 0,64% per April 2026, serta pergerakan yield SBN dan spread yang tetap stabil di pasar keuangan.

“Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik,” pungkasnya menutup kuliah umumnya.

sumber : Kemenkeu RI

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini