Jakarta, PR Politik — Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKS, Ledia Hanifa Amaliah, mendorong pentingnya peningkatan literasi statistik di masyarakat agar hasil sensus tidak hanya berhenti pada angka, tetapi bisa menjadi narasi yang bermakna dan bermanfaat bagi publik. Hal itu disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Sensus Ekonomi 2026 dan Peningkatan Literasi Statistik Masyarakat yang digelar hasil kolaborasi antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Komisi X DPR RI, Kamis (30/10/2025) di Jakarta.
Dalam sambutannya, Ledia menekankan bahwa sensus ekonomi bukan sekadar kegiatan teknis mengumpulkan data, melainkan bagian penting dari upaya membangun kesadaran publik tentang arti penting data bagi kebijakan dan kehidupan sosial.
“Sensus bukan sekadar mengumpulkan datanya. Untuk bisa terselenggara dengan baik, maka dia harus tersosialisasi dengan baik. Dan itu harus dilakukan dengan cara yang menarik, supaya orang tidak merasa bosan ketika melihat petugas sensus,” ujar Ledia di hadapan peserta kegiatan.
Menurut Ledia, salah satu kunci keberhasilan BPS dalam membangun citra positif di mata publik adalah kemampuan lembaga tersebut mengemas angka-angka menjadi cerita yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
“Badan Pusat Statistik ini kehumasannya mendapat peringkat cukup baik karena mampu menerjemahkan angka menjadi bahasa yang hidup. Angka itu penting, tapi kalau tidak dikemas dengan baik, orang tidak akan tertarik. Nah, di sinilah seni komunikasi data bekerja,” jelasnya.
Politisi PKS ini juga menyoroti bagaimana BPS berhasil memanfaatkan tren budaya populer untuk menyampaikan informasi statistik secara kreatif. Ia mencontohkan kampanye visual BPS yang memanfaatkan tema drama Korea dengan sentuhan lokal dan humor segar.
“Bayangkan, BPS pakai gaya kekinian seperti di drama Korea ‘When Life Gives You Tangerines’, tapi diganti jadi jeruk Indonesia. Begitu diklik, muncul data konsumsi buah jeruk nasional. Dari situ orang jadi paham bahwa data bisa dikemas dengan cara yang seru tapi tetap bermakna,” tuturnya sambil tersenyum.
Ledia juga menggarisbawahi pentingnya kemampuan menyampaikan hasil kerja dan data secara komunikatif, baik oleh lembaga publik seperti BPS maupun oleh anggota DPR.
“Sama seperti kita di Fraksi PKS. Anggotanya sudah jungkir balik bekerja, tapi kalau tidak ada yang menceritakan, masyarakat tidak tahu. Padahal banyak fakta dan kebaikan yang sudah dilakukan. Tugas kita adalah menyampaikan fakta itu, bukan pencitraan, tapi fakta dan data,” pungkasnya.















