Kebumen, PR Politik – Kawasan Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah, kembali menunjukkan hasil impresif dengan mencatatkan panen lanjutan sebanyak 46 ton udang vaname. Capaian pada siklus produksi kedelapan ini menjadi bukti nyata keberhasilan pemodelan tambak modern yang mengedepankan teknologi dan kelestarian lingkungan.
Direktur Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tb Haeru Rahayu, menyatakan bahwa kualitas udang yang dihasilkan sangat unggul dan telah memenuhi standar pasar internasional.
“Alhamdulillah, produksi terus meningkat dan kualitas udang sangat baik. Ini bukti bahwa sistem budidaya yang dijalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL,” ujarnya dalam siaran resmi di Jakarta, Minggu (3/5).
Tebe, sapaan akrab Dirjen tersebut, meninjau langsung proses panen di Desa Tegalretno, Kecamatan Petanahan. Berdasarkan data teknis, dari total 139 kolam yang beroperasi aktif, panen parsial pada 32 petakan tambak telah dilakukan sebanyak tiga kali dengan tren yang terus menanjak, yakni mulai dari 12 ton, 15 ton, hingga mencapai 19 ton.
Secara akumulatif, total produksi sementara berada di angka 46 ton dengan ukuran udang (size) berkisar antara 35 hingga 40. Keberhasilan ini tidak lepas dari penerapan ketat standar Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) serta sistem operasional yang terkontrol.
Penanggung jawab teknis BUBK Kebumen, Iwan Sumantri, menekankan bahwa aspek keberlanjutan menjadi fondasi utama dalam operasional kawasan ini. Pengelolaan limbah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dipastikan berjalan optimal untuk menjaga ekosistem sekitar.
“Sistem IPAL berjalan dengan baik. Indikatornya terlihat dari kualitas air yang tetap terjaga dan tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Ini menjadi komitmen kami agar budidaya tetap produktif sekaligus berkelanjutan,” jelasnya.
Selain fungsi produksi, BUBK Kebumen juga bertransformasi menjadi pusat pembelajaran (learning center) bagi para petambak lokal. Kehadiran infrastruktur ini memicu transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di wilayah tersebut.
Andes Wahyabremudho, salah satu petambak lokal, mengaku mendapatkan banyak manfaat teknis dan ekonomi sejak adanya kawasan ini. “Dengan adanya BUBK, kami bisa banyak belajar dari sisi teknis. Ilmu baru, sharing dengan tim teknis, sampai peningkatan kualitas budidaya sangat terasa. Dampak positifnya jauh lebih banyak,” ungkapnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, sebelumnya telah menyatakan optimismenya terhadap potensi industri udang nasional di pasar global. KKP terus mendorong program pemodelan budidaya berbasis kawasan sebagai strategi utama untuk meningkatkan daya saing Indonesia.
Dengan pendekatan yang mengintegrasikan teknologi modern dan keramahan lingkungan, BUBK Kebumen diharapkan menjadi prototipe nasional yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain, sekaligus menjadi tulang punggung ketahanan ekonomi sektor perikanan nasional.
sumber : KKP RI















