Jombang, PR Politik – Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar yang juga Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Muhammad Sarmuji, menilai pemikiran salah satu ulama besar sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), tetap memiliki relevansi yang sangat kuat hingga saat ini. Keteladanan dan rekam jejak pemikiran Mbah Wahab dipandang sebagai referensi penting dalam menghadapi dinamika sosial serta perbedaan pandangan di tengah masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Sarmuji saat menjadi narasumber dalam acara bedah buku Penyirep Gemuruh karya KH Abdul Wahab Chasbullah yang digelar di Masjid Gedang PPBU Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8). Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyemarakkan Muktamar ke-35 NU.
Sarmuji menjelaskan bahwa kisah yang terdokumentasi dalam kitab tersebut memotret secara jelas karakter khas NU dalam meredam dan menyelesaikan potensi konflik. Salah satunya tercermin dari kepiawaian KH Abdul Wahab Chasbullah saat menuntaskan perselisihan terkait proyek perluasan Masjid Paneleh di Surabaya.
Menurutnya, metode yang diusung Mbah Wahab secara konsisten mengamalkan empat pilar nilai utama NU, yaitu tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil).
“Karakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i’tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i’tidal yaitu adil,” ujarnya.
Ia menambahkan, Mbah Wahab senantiasa membuka ruang dialog yang inklusif dengan merangkul pandangan berbagai pihak. Mbah Wahab tidak hanya berpatokan pada pakar fikih semata, melainkan turut mendengarkan masukan dari para ahli di bidangnya masing-masing. Keteladanan ini membuktikan bahwa perbedaan tidak harus dipertajam, melainkan diselesaikan melalui ruang musyawarah dan titik temu.
Sesi bedah buku ini turut menghadirkan penemu naskah kuno dari Komunitas Pegon Banyuwangi, Ayung Notonegoro, serta penerjemah sekaligus penulis buku, Fathul H Panatapraja.
Ia menceritakan penemuan naskah Penyirep Gemuruh yang bermula dari riset sejarah NU di Banyuwangi pada rentang 2016–2018. Saat meneliti di Pesantren Lateng, ia menemukan lemari berisi kitab-kitab tua milik Kiai Saleh yang telah tergembok belasan tahun karena adanya mitos lokal. Setelah membangun komunikasi intensif dengan keluarga ahli waris, izin membuka lemari akhirnya didapatkan.
“dari sana kemudian terjadilah trust, tumbuh kepercayaan itu. Akhirnya kami diberikan kepercayaan untuk membuka lemari yang sudah belasan tahun tergembok itu. Tidak apa-apa, kalau saya sakit demi ilmu pengetahuan,” katanya menceritakan momen pembukaan lemari berharga tersebut.
Di dalam lemari itulah ditemukan naskah kuno Penyirep Gemuruh karya Kiai Wahab. Naskah serupa dikabarkan juga tersimpan di kantor PCNU Surabaya di Jalan Bubutan, sebelum akhirnya dipublikasikan secara luas oleh Komunitas Pegon Banyuwangi.
Sementara itu, ia menekankan bahwa keistimewaan Mbah Wahab terletak pada kemampuannya memadukan dialog sosial dengan kedalaman hukum Islam.
“Proses penyelesaian konflik yang diselesaikan Mbah Wahab tidak hanya lewat pendekatan dialog, tapi pencarian solusi dari sudut pandang hukum fikih,” ujarnya.
Melalui agenda bedah buku ini, warisan pemikiran intelektual KH Abdul Wahab Chasbullah diharapkan dapat terus diwarisi oleh generasi muda sebagai inspirasi untuk mengedepankan budaya dialog dan toleransi di tengah keanekaragaman bangsa.
sumber : Partai Golkar















