Analisis Pertemuan Trump-Xi Jinping, Partai Gelora Desak Indonesia Konsisten Mendayung di Antara Dua Karang

Jakarta, PR Politik – Pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, Kamis (15/5/2026), dinilai belum menghasilkan solusi konkret bagi penyelesaian konflik geopolitik di Timur Tengah (Timteng). Evaluasi tersebut dipaparkan oleh Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Luar Negeri DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Henwira Halim.

“Situasi perundingan antara Amerika dan China di Beijing ini, memang tidak langsung clear memberikan solusi. Ini baru satu pertemuan, dan Trump memberikan undangan ke Xi Jinping untuk melanjutkan perundingan pada September,” katanya Halim di Jakarta, Minggu (17/5).

Pandangan politik ini disampaikan Henwira dalam diskusi Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertajuk ‘Trump Temui Xi Jinping? Mengungkap Agenda Besar ke Tiongkok’ di Jakarta.

Menurutnya, dalam pertemuan tersebut Xi Jinping secara tersirat memberikan peringatan keras kepada Trump agar tidak menempatkan Beijing sebagai rival melainkan sebagai mitra strategis, khususnya di sektor ekonomi.

“Istilahnya, Amerika ini singa tua yang sudah mapan di puncuk kekuasaan, sedangkan China adalah singa muda yang sedang naik daun. Artinya jangan sampai berantem,” cetusnya.

Hubungan bilateral kedua raksasa dunia ini diproyeksikan aman selama AS menghormati garis merah terkait kedaulatan Taiwan. “Ini statement yang cukup keras dari China yang cukup direct. Membuat membuat kita paham, bahwa Taiwan ini , isu prioritas China ketika berhadapan dengan Donald Trump,” lanjutnya.

Merespons ketegasan tersebut, Trump memilih tidak mengonfrontasi isu Taiwan demi mengamankan agenda ekonomi menjelang Pemilu Sela AS pada November 2026. AS sangat membutuhkan bantuan diplomasi China untuk menekan Iran agar segera membuka blokade di Selat Hormuz yang menyumbat jalur logistik energi global.

“Trump tidak ingin hubungannya dengan Xi Jinping memanas lagi, karena pasokan energi Amerika tersendat di Selat Hormuz,” urai Henwira. Blokade ini pada dasarnya merugikan kedua belah pihak. Setelah AS menguasai ladang minyak Venezuela dan mendepak korporasi China, Beijing kini sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Iran yang melewati selat tersebut.

Baca Juga:  Bahlil Berbicara Soliditas Ormas - Ormas Pendiri Golkar

Bagi kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, pertemuan di Beijing ini dianggap belum membawa perubahan peta geopolitik yang signifikan karena masih tertahan pada kompromi ekonomi murni. Kendati AS unggul secara militer, China dinilai memiliki momentum waktu geopolitik yang tepat, yang memaksa Trump untuk menurunkan egonya.

“Hal itu memang tercermin dari perlakuan Xi Jinping terhadap Trump, diberikan segala macam servis dan penghormatan. Xi Jinping ingin memenangkan hati Trump,” ungkapnya.

Menyikapi konstelasi politik global yang dinamis ini, Partai Gelora merekomendasikan agar pemerintah Indonesia tetap teguh mengimplementasikan doktrin politik luar negeri bebas aktif dengan membina hubungan seimbang ke kedua poros raksasa tersebut.

“Kita harus netral , tidak perlu curiga dan tidak perlu konfrontatif baik dengan Amerika dan China. Karena jika sebaliknya yang terjadi, maka mendayung di antara dua karang ini jadi semakin berat. Karangnya semakin tajam dan ombak di antara dua karangnya juga semakin keras,” tegasnya.

Mengakhiri paparannya, ia mengingatkan bahwa ketegangan bersenjata antara AS dan Iran di Timur Tengah harus diupayakan selesai melalui jalur meja perundingan secara damai.

“Perang Ini harus kita cermati terus, bukan cuma soal dinamika saja, tetapi efeknya terhadap situasi global, termasuk dampaknya terhadap negara kita,” pungkasnya.

sumber : Partai Gelora

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Opini