Akselerasi Pemulihan Pasca-Banjir, Kemenhut Olah Ribuan Kubik Kayu Hanyutan Menjadi Hunian Warga

Aceh Utara, PR Politik – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bergerak cepat dalam upaya pemulihan pascabencana hidrometeorologi di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Fokus utama saat ini adalah normalisasi fasilitas umum serta pemanfaatan kayu hanyutan sebagai material utama pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi masyarakat terdampak.

Di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, sebanyak 95 personil gabungan dari Kemenhut dan Saka Wanabakti dikerahkan untuk membersihkan sisa material banjir. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Subhan, menjelaskan bahwa proses pemilahan kayu dilakukan secara langsung agar material yang masih layak bisa segera diproses.

“Kayu hanyutan kami pilah di halaman rumah warga dan di sungai mati untuk dimanfaatkan, terutama mendukung pembangunan hunian sementara,” ujar Subhan.

Hingga Rabu (7/1), tim mencatat volume kayu yang berhasil didata mencapai 1.101,34 m³ dari total 652 batang. Operasi ini didukung oleh kekuatan penuh alat berat sebanyak 37 unit, yang melibatkan sinergi antara Kemenhut, TNI, dan Kementerian PUPR.

Pemanfaatan kayu hasil olahan ini telah mulai dirasakan manfaatnya oleh warga. Melalui kerja sama dengan lembaga kemanusiaan Rumah Zakat, kayu-kayu tersebut diolah menggunakan sawmill berjalan. Hingga saat ini, total akumulasi kayu yang telah dimanfaatkan mencapai 32,5 m³, dengan progres pembangunan empat unit Huntara—satu di antaranya telah rampung berdiri.

Selain penanganan kayu, personil di lapangan juga berhasil menuntaskan pembersihan lima ruangan di SMPN 3 Langkahan, termasuk ruang kelas, perpustakaan, dan ruang tata usaha, guna memastikan kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali berjalan.

Di wilayah Sumatera Utara, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan bahwa pemanfaatan material sisa bencana ini dilakukan di bawah pengawasan ketat untuk menjamin ketertiban administrasi dan ketepatan sasaran.

Baca Juga:  Temui Dubes Inggris, Menko Airlangga Bahas Penguatan Kemitraan Ekonomi

“Kayu hanyutan diarahkan untuk kebutuhan pemulihan warga, termasuk bahan pembangunan hunian sementara,” kata Novita.

Berdasarkan tinjauan lapangan di Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, tim gabungan telah berhasil mengolah kayu hanyutan menjadi 565 keping kayu olahan dengan volume total 8,8475 m³. Operasi di wilayah ini didukung oleh tujuh unit ekskavator milik Kemenhut.

Sementara itu, di Aceh Tamiang, tim Gakkum (Penegakan Hukum) Kemenhut terus melakukan penjagaan di lokasi tumpukan kayu yang telah diukur untuk mencegah pengambilan secara ilegal. Di saat yang sama, tim Manggala Agni dan BPKH fokus pada pembersihan sarana dapur umum dan pemukiman warga guna mempercepat normalisasi kehidupan sosial masyarakat.

sumber : Kemenhut RI

Bagikan: