Adopsi Sistem Swiss, Kemenperin Perkuat Vokasi Melalui Praktik Kerja Industri Terstruktur

Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus melakukan langkah transformatif untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) industri yang kompeten. Salah satu strategi unggulan yang kini diakselerasi adalah penerapan Praktik Kerja Industri Terstruktur (Structured Internship) yang diadaptasi langsung dari sistem pendidikan vokasi ganda (dual system) asal Swiss.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa revitalisasi pendidikan vokasi merupakan kunci utama untuk menjawab tantangan transformasi digital dan menjaga ketahanan rantai pasok nasional.

“Pendidikan vokasi merupakan tulang punggung dalam mencetak sumber daya manusia industri yang kompeten, siap kerja, dan berdaya saing global. Melalui penguatan praktik kerja industri yang terstruktur, lulusan vokasi diharapkan memiliki kompetensi yang selaras dengan kebutuhan industri,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (6/1).

Program Structured Internship ini dikembangkan melalui kerja sama erat dengan Swiss Skills for Competitiveness (SS4C) yang didanai oleh Sekretariat Negara Swiss Urusan Ekonomi (SECO). Fokus utama program ini menyasar sektor-sektor strategis seperti logam, manufaktur, makanan, serta mebel dan perkayuan.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI), Doddy Rahadi, menjelaskan bahwa standarisasi program ini telah diperkuat dengan penerbitan Buku Panduan Praktik Kerja Industri Terstruktur (Structured Internship Guideline). Panduan ini memastikan proses magang tidak lagi sekadar formalitas, melainkan memiliki capaian pembelajaran yang terukur.

“Melalui kegiatan tersebut, kami mulai memetakan kesiapan serta praktik yang telah berjalan di berbagai satuan pendidikan vokasi di lingkungan Kementerian Perindustrian,” jelas Doddy mengenai koordinasi awal bersama SS4C.

Efektivitas sistem ini mulai terlihat pada performa lulusan unit pendidikan di bawah binaan Kemenperin, yang mencakup 11 politeknik, dua akademi komunitas, dan sembilan SMK. Wulan Aprilianti Permatasari, mewakili Kepala BPSDMI, menyampaikan bahwa penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) kini telah selaras dengan profil pekerjaan (job profile) di industri.

Baca Juga:  Kemnaker Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Industri untuk Siapkan SDM Unggul di Era Digital

“Sebagian besar politeknik dan SMK di bawah binaan Kemenperin telah mulai menerapkan konsep Structured Internship, antara lain melalui penyusunan capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang selaras dengan job profile industri, pembekalan soft skills bagi peserta, serta pengaturan jadwal dan mekanisme monitoring yang sistematis,” ungkap Wulan.

Hasilnya, data BPSDMI per September 2025 menunjukkan angka keterserapan yang impresif:

  • Politeknik & Akademi Komunitas: 9 dari 10 lulusan tahun 2024 telah bekerja di industri.

  • SMK Binaan Kemenperin: Lebih dari 75% lulusan langsung terserap oleh dunia usaha dan dunia industri.

Keberhasilan ini mengukuhkan posisi institusi pendidikan Kemenperin sebagai penyedia utama tenaga kerja terampil yang siap pakai dan memiliki daya saing internasional.

sumber : Kemenperin RI

Bagikan: