Jakarta, PR Politik – Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman, menegaskan bahwa bangsa Indonesia sangat membutuhkan kepemimpinan nasional yang mampu mengonversi besarnya potensi sumber daya menjadi kekuatan nyata. Menurutnya, ukuran tolok ukur suksesnya seorang pemimpin tidak sebatas dari melimpahnya aset yang dimiliki, melainkan pada kecakapan dalam meningkatkan produktivitas dan melipatgandakan kapasitas bangsa.
Pandangan strategis tersebut disampaikan Sohibul dalam forum FGD Kepemimpinan dan Lingstra Nasional MPP PKS yang berlangsung di Aula Utama Kantor DPTP PKS, Jakarta, Selasa (15/9). Ia menilai tantangan utama Indonesia saat ini terletak pada belum optimalnya pencapaian kapasitas riil jika dibandingkan dengan besarnya potensi sumber daya manusia (SDM), sumber daya alam (SDA), dan daya dukung institusi.
“Kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang mampu melipatgandakan potensi yang ada,” ujarnya.
Oleh sebab itu, ia mendorong agar figur pemimpin tidak hanya bertindak sebagai administrator yang sekadar menjaga status quo, melainkan wajib menjadi value creator yang sanggup mengorganisasi serta melahirkan titik-titik pertumbuhan baru bagi kemajuan nasional.
Dalam perspektif kepemimpinan Islam, ia menekankan pentingnya menginternalisasi empat karakter utama Rasulullah SAW, yakni shiddiq (kejujuran dan integritas), amanah (tanggung jawab dan rekam jejak tepercaya), fathanah (kompetensi dan kecakapan), serta tabligh (keterbukaan, komunikasi publik, dan keteladanan).
Sifat shiddiq dan amanah dipandang sebagai pondasi utama untuk merawat capaian bangsa, sedangkan fathanah dan tabligh menjadi pendorong utama dalam menciptakan inovasi serta kapasitas baru.
“Kepemimpinan harus mampu merawat apa yang sudah ada dan mengembangkan apa yang belum ada. Jadi bukan hanya menjaga, tetapi juga menciptakan kemajuan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyerukan pentingnya pembenahan mekanistis pada sistem rekrutmen politik nasional—mulai dari ajang Pemilu, Pilpres, Pileg, hingga Pilkada—agar demokrasi tidak sebatas melahirkan pemenang kontestasi, melainkan menghasilkan sosok bertipe solidarity maker leader. Pemimpin tipe ini dinilai mampu merangkul seluruh elemen bangsa tanpa mengikis ketegasan hukum dan visi kebangsaan.
“Pada akhirnya, kepemimpinan nasional harus mampu mengubah Indonesia yang kaya potensi menjadi Indonesia yang benar-benar kuat kapasitasnya,” pungkasnya.
sumber : PKS















