Kupang, PR Politik – Peran ibu rumah tangga dalam membentuk karakter anak dinilai memiliki posisi yang sangat vital dalam cetak biru pembangunan manusia dan masa depan bangsa. Oleh karena itu, dukungan negara terhadap para ibu yang menjalankan peran pengasuhan dinilai perlu diperkuat secara konkret, termasuk melalui formulasi kebijakan perlindungan dan pemberian insentif khusus.
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa pekerjaan pengasuhan yang dilakoni oleh seorang ibu memiliki dampak jangka panjang terhadap kualitas generasi masa depan. Menurut Viktor, seorang ibu secara totalitas mencurahkan waktu, tenaga, perhatian, kesempatan, bahkan kenyamanan dirinya sendiri demi memastikan anak-anak tumbuh dan berkembang secara optimal.
“Para ibu rela mengorbankan segala yang mereka miliki, waktu, tenaga, perhatian, kesempatan, bahkan kenyamanan diri untuk memastikan anak-anak tumbuh dengan baik,” katanya.
Ia menilai, peran mulia tersebut berlangsung tanpa henti setiap hari dan menyentuh berbagai aspek fundamental kehidupan anak. Ibu bertindak mendampingi, merawat, sekaligus mendidik anak sejak dini di dalam lingkungan keluarga yang menjadi ruang pertama tempat anak-anak belajar mengenal esensi kehidupan.
“Di tangan seorang ibu, nilai-nilai kehidupan paling banyak ditanamkan. Keberanian, tanggung jawab, kepedulian, dan cinta Tanah Air mulai dibentuk dari rumah,” ujarnya.
Baginya, pendidikan karakter tidak boleh hanya ditumpukan pada penguasaan pengetahuan formal di bangku sekolah. Lingkungan domestik keluarga memiliki fungsi mendasar dalam membentuk cara pandang anak terhadap dirinya, orang lain, serta interaksi sosial di lingkungannya. Hal tersebut termasuk dalam menyemai benih nasionalisme.
Kecintaan terhadap Indonesia dapat tumbuh subur dari hal-hal sederhana yang diperkenalkan orang tua kepada anak sejak dini, seperti menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menghormati sesama, dan berani mengambil tindakan yang bermanfaat bagi bangsa.
“Nasionalisme pun tumbuh dari rumah. Dari cerita seorang ibu tentang Indonesia, dari ajaran untuk menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menghormati sesama, dan berani melakukan sesuatu yang baik bagi bangsa,” paparnya secara filosofis.
Mengingat besarnya tanggung jawab moral dan fisik tersebut, ia mendesak agar atensi terhadap ibu rumah tangga yang menjalankan fungsi pengasuhan dimasukkan secara resmi ke dalam agenda prioritas pembangunan manusia nasional. Ia menyayangkan fakta di lapangan di mana banyak ibu harus memikul tanggung jawab raksasa secara mandiri dengan dukungan fasilitas yang sangat terbatas, bahkan berlangsung 24 jam tanpa mengenal jam kerja formal.
“Sudah saatnya Indonesia memberikan perhatian yang lebih nyata kepada para ibu rumah tangga yang menjalankan peran pengasuhan dengan dukungan yang terbatas. Perhatian lebih berupa insentif dan kebijakan perlindungan bagi mereka perlu menjadi bagian dari agenda pembangunan manusia,” tuturnya secara lugas.
Menurut mantan Gubernur NTT ini, alokasi dukungan fiskal maupun regulasi tersebut tidak boleh dipandang sebagai beban anggaran, melainkan sebuah investasi jangka panjang demi mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Pengokohan institusi keluarga pada akhirnya berkorelasi lurus dengan mutu generasi yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan bangsa.
“Bagi saya, ibu adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Apa yang ditanamkan seorang ibu di rumah akan ikut menentukan manusia seperti apa yang tumbuh dan kelak membangun bangsa ini,” urainya.
Ia menambahkan, setiap rekam nilai yang ditanamkan seorang ibu kepada buah hatinya memiliki probabilitas besar untuk tumbuh menjadi karakter permanen yang menavigasi perjalanan hidup anak tersebut di masa depan.
“Ketika seorang ibu mengajarkan anaknya untuk berani, bertanggung jawab, peduli kepada sesama, dan mencintai Indonesia, sesungguhnya ia sedang menanam benih masa depan bangsa,” pungkasnya menutup keterangannya.
sumber : Fraksi Nasdem















