Jaipur, PR Politik – Ketahanan industri global saat ini tidak lagi diukur semata dari besarnya nilai investasi atau kapasitas produksi suatu negara. Di tengah pusaran disrupsi teknologi, tantangan perubahan iklim, serta dinamika rantai pasok dunia, kolaborasi internasional antarnegera menjadi kunci utama dalam memelihara daya saing industri nasional.
Perspektif strategis tersebut menjadi salah satu titik tekan pada perhelatan The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers yang berlangsung di Jaipur, India, Kamis (6/8). Forum ini mengurai berbagai prioritas kerja sama industri negara-negara anggota melalui BRICS Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) guna merancang ekosistem manufaktur yang lebih tangguh, inovatif, dan berkelanjutan.
“Indonesia memandang BRICS sebagai wadah strategis untuk memperkuat kerja sama yang mampu memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri. Melalui kemitraan ini, kami ingin memastikan transformasi industri tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi investasi, inovasi, perdagangan, dan penciptaan lapangan kerja,” ujar Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, dalam keterangan resminya, Jumat (7/8).
Bagi Indonesia, forum internasional ini memiliki nilai yang sangat vital mengingat sektor manufaktur merupakan salah satu mesin penggerak utama perekonomian nasional sekaligus fondasi daya saing di kancah global. Pada triwulan pertama tahun 2026, sektor manufaktur tercatat menyumbang lebih dari 19 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, serta menyumbang lebih dari 82 persen dari total ekspor nasional.
“Kinerja tersebut memperkuat posisi Indonesia untuk berkontribusi dalam berbagai kerja sama industri BRICS sekaligus memperluas keterlibatan industri nasional dalam rantai nilai global,” katanya.
Dalam forum tingkat menteri tersebut, pembahasan difokuskan pada empat pilar prioritas, yakni pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ekosistem startup, logistik industri, serta industri panel surya (photovoltaics). Keempat sektor ini dinilai saling terkait dalam membangun ekosistem industri yang adaptif terhadap lompatan teknologi.
Pada pilar UMKM industri, delegasi Indonesia memaparkan berbagai program peningkatan akses pembiayaan, adopsi teknologi modern, pengembangan SDM, hingga perluasan akses pasar mancanegara. Langkah ini krusial mengingat Industri Kecil dan Menengah (IKM) mencakup 99,8 persen unit usaha industri di tanah air, menyerap 65 persen tenaga kerja industri, serta berkontribusi lebih dari 21 persen terhadap nilai tambah manufaktur nonmigas.
Di bidang inovasi digital, Indonesia memamerkan keberhasilan program Startup4Industry bentukan Kementerian Perindustrian yang telah menjembatani lebih dari 2.500 startup dengan para pelaku industri, investor, dan akademisi di bidang artificial intelligence (AI), manufaktur cerdas, robotika, teknologi hijau, hingga semikonduktor.
“Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia dalam pengembangan BRICS Incubator Network dan BRICS Startup Knowledge Hub sebagai sarana kolaborasi inovasi, investasi, dan pengembangan teknologi di antara negara anggota,” tuturnya.
Selain empat prioritas utama di atas, Indonesia juga menangkap peluang ekspansi kerja sama pada tiga sektor strategis lainnya, yaitu pengembangan industri hijau, industri semikonduktor, dan industri berbasis agro.
“Ketiga bidang ini memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan industri sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur di masa depan. Indonesia siap menjajaki kerja sama yang lebih konkret melalui berbagai Working Group PartNIR sesuai dengan prioritas dan kepentingan nasional,” tambahnya.
Keikutsertaan aktif Indonesia dalam The 10th Meeting of BRICS Industry Ministers mempertegas komitmen berkesinambungan pemerintah dalam arsitektur industri global, mulai dari perumusan arah kebijakan hingga eksekusi program kolaborasi di lapangan.
“Dengan demikian, kerja sama BRICS tidak hanya memperluas jejaring diplomasi ekonomi, tetapi juga membuka ruang yang lebih besar bagi industri Indonesia untuk berpartisipasi dalam rantai nilai global serta mempercepat transformasi manufaktur nasional,” pungkasnya mengakhiri taklimatnya.
sumber : Kemenperin















