Jakarta, PR Politik – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya lima peserta dalam rangkaian kegiatan pembekalan bagi calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” ujar politisi yang akrab disapa Gus Rivqy di Jakarta, Selasa (30/6).
Menurutnya, peristiwa memilukan ini harus dijadikan momentum evaluasi total terhadap cetak biru (blueprint) desain rekrutmen calon manajer KDKMP. Ia menegaskan, program strategis pemerintah yang sejatinya ditujukan untuk memperkuat fondasi ekonomi pedesaan tidak boleh dicoreng oleh proses seleksi yang berisiko tinggi hingga menimbulkan korban jiwa.
Ia menilai kebutuhan fundamental untuk posisi seorang manajer koperasi adalah kapasitas kepemimpinan, integritas moral, kecakapan mengelola usaha, literasi keuangan, tata kelola organisasi, serta keluwesan membangun jejaring dengan masyarakat dan pelaku usaha hulu-hilir. Oleh sebab itu, skema rekrutmen semestinya lebih menitikberatkan pada pengukuran kompetensi kognitif dan manajerial dibandingkan porsi tes fisik yang berlebihan dalam durasi panjang.
“Saya melihat retret bagi mereka itu cukup lama ya, sampai sebulan. Dan setelah itu pelatihan manajerial 15 hari. Jadi mungkin untuk selanjutnya dikurangi saja durasi retretnya, jangan sebulan. Akan lebih baik kalau difokuskan ke skema manajerial saja,” paparnya mengkritisi durasi pembekalan fisik tersebut.
Lebih lanjut, legislator Senayan ini mengusulkan agar pembekalan calon manajer KDKMP dialihkan ke bentuk praktik lapangan yang konkret. Hal itu dapat diwujudkan melalui pendampingan langsung di koperasi-koperasi yang telah sukses, program magang bersama pelaku usaha, serta asistensi berkala oleh mentor profesional di bidang bisnis.
Ketua Umum DKP Panji Bangsa tersebut menyatakan bahwa rekam jejak global di banyak negara maju telah membuktikan bahwa keberhasilan koperasi dibangun melalui penguatan kapasitas intelektual dan sumber daya manusia (SDM), bukan lewat pendekatan fisik yang berlebihan.
Ia mencontohkan negara Jepang, di mana koperasi pertanian berkembang pesat melalui pendidikan manajemen yang berkelanjutan, pelatihan bisnis, serta pendampingan profesional. Begitu pula di Korea Selatan melalui gerakan Saemaul Undong yang sukses memperkuat ekonomi desa berbasis pengembangan kepemimpinan lokal, pelatihan kewirausahaan, dan partisipasi aktif masyarakat. Sementara di Belanda, koperasi-koperasi raksasa tumbuh subur karena dikelola oleh manajer profesional yang menguasai kompetensi bisnis, tata kelola, dan akuntabilitas yang ketat.
“Indonesia perlu mengadopsi praktik-praktik terbaik tersebut. Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan berhasil apabila dikelola oleh sumber daya manusia yang profesional, berintegritas, memahami bisnis, dan dibina secara berkelanjutan. Yang terpenting, tidak boleh ada lagi peserta yang kehilangan nyawa dalam proses menyiapkan pemimpin koperasi masa depan,” pungkasnya mengakhiri keterangannya.
sumber : PKB















