Jakarta, PR Politik – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperketat draf pengembangan ekosistem industri olahraga nasional sebagai salah satu sektor manufaktur yang mengantongi potensi raksasa untuk tumbuh dan bersaing di pasar global. Industri produk olahraga yang meliputi klaster pakaian (apparel), alas kaki, dan alat olahraga saat ini menunjukkan tren pertumbuhan positif, pararel dengan meroketnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat (healthy lifestyle), menjamurnya pusat kebugaran, serta maraknya turnamen olahraga di berbagai daerah.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, memaparkan bahwa momentum sosiologis ini wajib dikonversi secara optimal agar industri produk olahraga dalam negeri mampu bertindak sebagai tuan rumah di pasar domestik, sekaligus memperlebar sayap penetrasi ke ceruk ekspor internasional.
“Industri pakaian, sepatu, dan alat olahraga memiliki peran strategis serta peluang yang sangat besar untuk terus dikembangkan seiring meningkatnya permintaan pasar, baik di tingkat nasional maupun global,” urainya dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (5/6).
Guna mengeksekusi target tersebut, Kemenperin mengarsiteki agenda “Business Matching Indonesia Sport and Active Wear (ISAW) Ecosystem: B2B Market Activation” di Jakarta, Rabu (3/6). Forum hibrida ini mempertemukan para perajin pakaian, sepatu, dan alat olahraga lokal dengan korporasi ritel raksasa, induk organisasi olahraga, hingga barisan mitra strategis potensial.
Menperin melayangkan draf apresiasi tinggi atas rajutan sinergi lintas sektoral yang melibatkan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Asosiasi Pakaian Olahraga Indonesia (ASPOIN), serta Ketua Induk Organisasi Cabang Olahraga (IOCO).
“Kami mengapresiasi para pihak yang telah bersama-sama bersinergi untuk memperluas akses pasar yang berkelanjutan bagi IKM pakaian dan sepatu olahraga serta industri alat olahraga sehingga semakin terhubung dengan rantai pasok industri dan ritel nasional,” tambahnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menegaskan bahwa agenda business matching ini bukan sekadar ajang seremonial temu bisnis kaku. Langkah ini merupakan draf implementasi konkret untuk mempertebal gerakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) sekaligus mengerek daya saing industri pendukung ekosistem olahraga.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing industri pendukung ekosistem olahraga agar mampu berkembang, memperluas pasar, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional,” urainya membedah cetak biru programnya.
Besarnya kontribusi makro industri sandang dan alas kaki olahraga ini terekam valid dalam draf data Badan Pusat Statistik (BPS). Rapor industri mencatat kekuatan serapan tenaga kerja dan kontribusi PDB sebagai berikut:
| Sektor Industri Manufaktur | Jumlah Unit Usaha | Serapan Tenaga Kerja | Kontribusi Terhadap PDB (Triwulan I-2026) |
| Industri Kecil Pakaian Jadi | ~623.000 Unit | 1,2 Juta Orang | 0,99 Persen |
| Industri Menengah Pakaian Jadi | 1.200 Unit | 39.000 Orang | (Termasuk Komoditas Konveksi) |
| Subsektor Kulit & Alas Kaki (Kecil) | ~48.000 Unit | >139.000 Orang | 1,30 Persen |
| Subsektor Kulit & Alas Kaki (Menengah) | 415 Unit | (Kumulatif dengan Industri Kecil) | (Termasuk Sepatu Olahraga) |
Ia menambahkan, performa memukau juga ditunjukkan oleh kurva perdagangan luar negeri. Merujuk data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemenperin, komoditas konveksi tekstil dan sepatu olahraga sukses menembus daftar 20 komoditas manufaktur dengan nilai ekspor paling gemilang per Februari 2026, di mana masing-masing menyumbang devisa sebesar USD626,32 juta dan USD340,81 juta.
Tidak kalah taji dengan produk fesyen aktif, industri alat olahraga nasional juga terus mencetak rapor hijau di lapangan. Sektor ini disokong kuat oleh klaster sentra IKM daerah yang terintegrasi dalam rantai pasok nasional, andal menyerap hingga 15 ribu tenaga kerja, serta menjadi draf motor penggerak ekonomi regional.
Dalam draf periodisasi lima tahun terakhir, neraca perdagangan sirkuit alat olahraga domestik secara konsisten mencatatkan posisi surplus. Bahkan pada tahun anggaran 2025, grafik nilai ekspor produk alat olahraga melonjak tajam hingga 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Produk-produk buatan anak bangsa dilaporkan sukses menginvasi pasar negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Belanda, dan Inggris.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa draf operasional business matching ini diikuti oleh 22 IKM terpilih yang dipertemukan langsung dengan lebih dari 30 calon mitra strategis. Agenda ini bertindak sebagai draf jembatan pembuka sebelum perhelatan akbar puncak Indonesia Sport and Active Wear (ISAW) 2026 digulirkan resmi pada September mendatang.
Menutup draf keterangan resminya, ia berharap intervensi siber dan promosi ini mampu melahirkan draf kontrak kemitraan jangka panjang (sustainable business contract), bukan sekadar transaksi spot jangka pendek. Kemenperin menegaskan pakta komitmennya untuk konsisten menggulirkan program pembinaan, restrukturisasi mesin, peningkatan kapasitas SDM, hingga fasilitasi promosi digital guna memastikan produk olahraga Indonesia tangguh merajai pasar domestik maupun global.
sumber : Kemenperin RI















