Jakarta, PR Politik – Memperingati momentum Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) melalui Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka), Eko Yuliarti Siroj, mengingatkan bahwa ancaman terbesar yang membayangi keselamatan anak-anak Indonesia telah mengalami pergeseran drastis. Bahaya nyata tidak lagi sebatas datang dari lingkungan luar rumah, melainkan merangsek masuk melalui ruang digital yang setiap hari berada dalam genggaman mereka.
Eko menegaskan bahwa HAN 2026 harus dijadikan pemantik utama untuk mengukuhkan fungsi keluarga sebagai benteng perlindungan terdepan. Menurutnya, Visi Generasi Emas Indonesia 2045 akan sulit terealisasi tanpa keberadaan institusi keluarga yang tangguh.
“Hari Anak Nasional harus menjadi momentum memperkuat keluarga sebagai benteng utama perlindungan anak. Indonesia tidak akan mampu mewujudkan Generasi Emas jika keluarga sebagai lingkungan pertama anak tidak diperkuat. Perlindungan anak harus dimulai dari rumah, melalui pengasuhan yang hangat, kehadiran orang tua, dan lingkungan yang aman,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta.
PKS menyoroti potret perlindungan anak di tanah air yang masih memprihatinkan. Merujuk data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA), ribuan kasus kekerasan anak masih konsisten tercatat saban tahun.
Lebih lanjut, Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) membeberkan fakta mengerikan bahwa satu dari dua anak rentang usia 13–17 tahun pernah mengalami kekerasan fisik, psikis, maupun seksual. Di lain sisi, Kementerian Komunikasi dan Digital mendokumentasikan bahwa 48 persen anak pengguna internet di Indonesia pernah menjadi korban perundungan siber (cyberbullying).
Ia menyebut temuan ini menandaskan bahwa zona aman anak di dalam rumah kini makin rentan terintervensi oleh perangkat gawai yang tak terfilter dengan baik.
Oleh karena itu, PKS mendesak pemerintah agar tidak hanya bertindak reaktif pasca-kejadian. Negara diminta segera mengeksekusi langkah preventif terstruktur melalui akselerasi penerapan Peta Jalan Pelindungan Anak di Ranah Digital, perluasan literasi digital, edukasi pola pengasuhan (parenting), serta penegakan hukum tanpa kompromi.
Guna mewujudkan ekosistem digital yang ramah anak, PKS secara khusus mendorong pemerintah untuk mengalokasikan pos anggaran khusus yang difokuskan pada program literasi digital bagi para orang tua di tingkat komunitas/RT/RW.
Selain itu, pemerintah diminta mempercepat integrasi materi keamanan siber (cyber security) ke dalam kurikulum pendidikan nasional agar anak-anak memiliki filter mandiri.
“Negara maju tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari seberapa aman anak-anaknya bertumbuh. Investasi terbesar bangsa bukan semata pembangunan infrastruktur, melainkan pembangunan keluarga yang mampu melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, dan terlindungi. Itulah fondasi menuju Indonesia Emas 2045,” pangkasnya menutup pernyataannya.
sumber : PKS















