Rawat Perdamaian Global, Indonesia Menjadi Tuan Rumah Dialog Lintas Agama Bersama Denmark

Jakarta, PR Politik – Ditengah eskalasi konflik dan polarisasi identitas global, Indonesia dan Denmark memperkuat komitmen internasional dalam mengampanyekan perdamaian. Sinergi ini diwujudkan lewat penyelenggaraan “the 4th Indonesia–Denmark Interfaith Dialogue” yang berlangsung di Jakarta pada 3–7 Mei 2026, dengan mengangkat tema “Faith in Humanity: Building Peace through Interfaith and Intercultural Understanding.”

Gelaran yang diinisiasi oleh Kementerian Luar Negeri RI bekerja sama dengan Kedutaan Besar Denmark di Jakarta ini menorehkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, Indonesia bertindak sebagai tuan rumah setelah tiga pertemuan terdahulu selalu digelar di Denmark. Forum ini sekaligus menandai diaktifkannya kembali dialog bilateral tersebut pascavakum sejak tahun 2019.

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Duta Besar Heru Hartanto Subolo, membuka secara resmi forum ini pada 4 Mei 2026. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kemitraan yang telah terjaga selama 76 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Pertemuan ini juga menjadi realisasi nyata dari dokumen “Plan of Action on Strategic Partnership for a Sustainable and Resilient Future 2025–2029” yang diteken Menlu kedua negara pada April 2025 lalu.

“Hubungan Indonesia dan Denmark tidak hanya dibangun melalui kerja sama antarpemerintah. Lebih dari itu, hubungan kedua negara tumbuh dari kepercayaan, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling mendengar,” urai Heru. Ia menambahkan, “Dialog bukan sekadar formalitas. Dialog adalah ruang untuk benar-benar mendengar, bukan hanya menjawab, tetapi memahami.”

Forum yang dibagi ke dalam tiga sesi diskusi panel ini menghadirkan ragam perspektif dari para tokoh agama dan akademisi kedua negara. Dari pihak Indonesia, Duta Besar Darmansjah Djumala memaparkan nilai universal Pancasila sebagai rujukan etik perdamaian dunia. Sementara M. Najib Azca (PBNU) mengulas moderasi beragama berbasis rahmatan lil ‘alamin, disusul oleh Romo Dr. Aloysius Budi Purnomo (KWI) yang menyoroti pentingnya aksi kemanusiaan lintas iman dalam merespons krisis global.

Baca Juga:  Pertumbuhan 2026, Menkeu Purbaya Perkuat Sinkronisasi Fiskal-Moneter demi Sektor Riil

Sebaliknya, delegasi Denmark membagikan praktik terbaik mereka mengenai kerangka dialog Kristen-Islam, kebebasan beragama, pelayanan spiritual lintas budaya, serta pelibatan pemuda.

Pada sesi penutupan, Staf Ahli Menlu Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri, Duta Besar Kamapradipta Isnomo, menegaskan bahwa dialog ini merupakan manifestasi hidup berdampingan secara bermartabat. Pertemuan menghasilkan sejumlah poin kesepakatan kerja sama ke depan, yang meliputi kolaborasi akademik studi lintas agama, materi pendidikan perdamaian, jejaring kepemimpinan pemuda, hingga literasi digital dan storytelling.

Di sela-sela forum, delegasi Denmark juga berkesempatan melakukan audiensi khusus dengan Menteri Agama RI sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, serta Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha C. Nasir.

Dalam pertemuan tersebut, Wamenlu Arrmanatha menegaskan bahwa bagi Indonesia, kemajemukan merupakan identitas yang sudah mengakar secara historis dan biologis.

“Bagi Indonesia, keberagaman telah menjadi bagian dari identitas bangsa — diversity is part of our DNA. Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan falsafah yang hidup dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Dari Sabang sampai Merauke, keberagaman agama, budaya, dan tradisi adalah kekuatan, bukan kerentanan,” tegas Arrmanatha C. Nasir.

Guna memberikan gambaran riil mengenai toleransi di tanah air, delegasi Denmark diajak melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah simbol keharmonisan Jakarta. Mereka mengunjungi Masjid Istiqlal, berdialog dengan siswa Madrasah Istiqlal, melewati Terowongan Silaturahmi menuju Katedral Jakarta, menyambangi Gereja Immanuel, serta meninjau kebudayaan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Rangkaian kunjungan ini membuktikan kepada dunia internasional bahwa keragaman di Indonesia bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari demi membangun masa depan yang inklusif.

Baca Juga:  Wamenag: Kerukunan Umat Beragama Adalah Tanggung Jawab Bersama

sumber : Kemlu RI