PR Politik – Pemimpin Redaksi iNews Media Group, Aiman Adi Witjaksono, menilai jurnalis dan praktisi public relations (PR) memiliki orientasi yang berbeda dalam menjalankan profesinya. Menurutnya, perbedaan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi jurnalis yang beralih ke dunia kehumasan, termasuk kehumasan politik.
Aiman menjelaskan bahwa jurnalisme pada dasarnya bekerja untuk kepentingan publik, sedangkan PR mewakili kepentingan individu, kelompok, maupun institusi tertentu. Perbedaan orientasi tersebut sering kali menimbulkan tantangan adaptasi bagi mereka yang pernah berkecimpung di kedua profesi tersebut.
“Mindset jurnalis itu adalah mindset publik, sementara mindset PR adalah mindset perorangan, kelompok, atau institusi tertentu. Ada gap di sana,” ujar Aiman dalam perbincangan bersama Founder PR Politik Indonesia, Heryadi Silvianto.
Ia mengaku pernah merasakan langsung perbedaan tersebut ketika bekerja di sebuah perusahaan public relations pada 2011. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa perpindahan dari dunia jurnalistik ke dunia kehumasan tidak selalu mudah dilakukan.
Menurutnya, jurnalis yang terbiasa melakukan advokasi untuk kepentingan publik sering kali menghadapi pertentangan batin ketika harus memperjuangkan kepentingan kelompok atau institusi tertentu.
“Advokasi yang kita lakukan adalah advokasi untuk publik. Sementara dalam waktu yang singkat kita berubah untuk kepentingan perorangan atau golongan. Itu yang menjadi pertentangan batin,” ujarnya.
Meski demikian, Aiman menilai perbedaan tersebut tidak berarti nilai-nilai jurnalistik kehilangan relevansinya ketika seseorang memasuki dunia komunikasi strategis atau kehumasan. Menurutnya, prinsip-prinsip seperti kejujuran, fairness, dan integritas tetap menjadi fondasi penting dalam membangun komunikasi yang kredibel.
Ia mencontohkan pengalamannya saat terlibat dalam aktivitas komunikasi publik sebagai Juru Bicara Ganjar-Mahfud pada Pilpres 2024. Menurutnya, nilai-nilai jurnalistik tetap menjadi pedoman utama dalam menyampaikan pesan dan informasi kepada masyarakat.
“Saya tidak pernah sekalipun mengajak orang memilih Ganjar atau Mahfud. Yang saya sampaikan adalah fairness, fair play, dan jangan curang. Itu semua nilai-nilai jurnalisme,” katanya.
Aiman menilai bahwa perbedaan orientasi antara jurnalisme dan PR tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang saling bertentangan. Sebaliknya, pemahaman terhadap karakter masing-masing profesi justru dapat membantu praktisi komunikasi menjalankan perannya secara lebih profesional.
Menurutnya, nilai-nilai dasar jurnalistik seperti kejujuran, integritas, dan keberpihakan pada kebenaran tetap penting dijaga oleh siapa pun yang berkecimpung dalam dunia komunikasi. Prinsip-prinsip tersebut menjadi fondasi untuk membangun komunikasi yang kredibel sekaligus menjaga kepercayaan publik di tengah dinamika informasi yang semakin kompleks.















