Dari Pencitraan ke Kepercayaan Publik: Saatnya PR Politik Mengadopsi Story Engineering

Founder OMG Creative Consulting, Yoris Sebastian (kiri) bersama Founder PR Politik Indonesia, Heryadi Silvianto (kanan)

Jakarta, PR Politik – Praktik public relations (PR) politik tidak lagi cukup mengandalkan kemampuan menyusun narasi atau mengelola citra. Di tengah masyarakat yang semakin kritis dan mudah memverifikasi informasi, tantangan utama komunikasi politik adalah menghadirkan cerita yang lahir dari tindakan nyata. Pendekatan inilah yang disebut Founder OMG Creative Consulting, Yoris Sebastian, sebagai story engineering.

Dalam sesi Road to PR Politik Summit 2026, Yoris menegaskan bahwa komunikasi politik seharusnya tidak berfokus pada memproduksi cerita, melainkan merancang pengalaman dan aksi yang secara alami melahirkan cerita positif di tengah masyarakat.

“Saya enggak suka story manufacture atau story manipulation. Saya maunya story engineering. Kita bukan memanipulasi cerita, tapi meng-engineer cerita dari sesuatu yang memang kita lakukan,” ujar Yoris, Rabu (1/7/2026).

Menurutnya, inilah tantangan baru bagi praktisi PR politik. Peran humas politik tidak lagi sekadar mengemas pesan, membuat konten, atau mengatur publikasi media. Lebih dari itu, PR politik perlu terlibat sejak tahap perencanaan program, memastikan kebijakan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, kemudian mengomunikasikan dampak yang memang telah dirasakan publik.

Yoris juga menilai komunikasi yang efektif selalu dibangun jauh sebelum krisis terjadi. Ketika sebuah institusi menghadapi kritik atau boikot, dukungan publik tidak muncul secara instan, melainkan merupakan akumulasi dari hubungan yang telah dibangun melalui berbagai pengalaman positif.

“Pada saat boikot, siapa yang ngebelain? Enggak ada kan? Berarti story-nya enggak di-engineer dari awal,” katanya.

Ia turut mengkritik praktik komunikasi politik yang masih berhenti pada aktivitas seremonial dan simbolik. Menurutnya, masyarakat tidak lagi mudah terkesan dengan dokumentasi pembagian bantuan atau kegiatan yang lebih menonjolkan simbol politik daripada manfaat nyata yang diterima warga.

Baca Juga:  Gun Gun Heryanto: Dukungan Jokowi untuk PSI, Simbiosis Mutualisme

“Kalau memang mau benar-benar bantu masyarakat, harus mau capek sedikit. Cari siapa yang benar-benar membutuhkan. Jangan sekadar bagi beras lalu selesai difoto,” ujarnya.

Bagi Yoris, PR politik perlu mengubah paradigma dari mengejar pemberitaan menjadi membangun pengalaman publik. Ketika kebijakan dijalankan dengan empati, pelayanan diberikan secara konsisten, dan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya, cerita positif akan tumbuh secara organik. Cerita seperti itulah yang menjadi modal reputasi dan kepercayaan publik yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar kampanye komunikasi.

“Komunikasi itu harus memperbesar hal-hal baik yang memang sudah terjadi. Jangan menciptakan sesuatu yang sebenarnya enggak pernah ada,” tegasnya.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa masa depan PR politik tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling piawai membangun pencitraan, melainkan oleh siapa yang mampu menghadirkan tindakan nyata yang layak diceritakan. Di era keterbukaan informasi, story engineering menjadi paradigma baru bagi PR politik: membangun kepercayaan publik melalui konsistensi aksi, bukan sekadar keberhasilan mengelola persepsi.

Berita Terbaru

Artikel Lainnya

Infografis Terbaru